INDEF: Harga BBM Naik, APBN Jadi Jebol

INDEF: Harga BBM Naik, APBN Jadi Jebol

- detikFinance
Sabtu, 31 Mar 2012 14:28 WIB
INDEF: Harga BBM Naik, APBN Jadi Jebol
Jakarta - Direktur INDEF Enny Sri Hartati menyanggah asumsi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dapat menyelamatkan postur APBN. INDEF menyebut kenaikan harga BBM justru membuat beban anggaran negara meningkat.

"Berdasarkan data dari Banggar, jika harga BBM dinaikkan akan ada penghematan Rp 41 triliun. Tapi kompensasi akibat kenaikan BBM hampir Rp 100 triliun," kata Enny dalam diskusi Polemik Sindo Radio di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (31/3/2012).

Menurutnya beban anggaran membengkak karena pemerintah harus menyiapkan skema kompensasi bila harga BBM dinaikan. Kompensasi yang paling menyedot anggaran adalah bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) yang akan diberikan untuk 18,5 juta rumah tangga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau harga BBM dinaikan justru APBN jebol karena ada tambahan cost recovery, subsidi, ini enggak masuk akal. Dana BLSM saja mencapai Rp 25 triliun," tandasnya.

Namun, pendapat bakal jebolnya APBN bila harga BBM naik dipatahkan kubu pemerintah. "Kompensasi tidak benar lebih besar dari budget saving," ujar asisten staf khusus Wakil Presiden, Denni Puspa Purbasari.

Menurutnya penghematan anggaran bila subsidi BBM dikurangi bisa mencapai Rp 40 triliun. Subsidi untuk solar dan premium sepanjang 2012 diperkirakan naik menjadi Rp 191 triliun dari Rp 123 triliun karena harga minyak dunia mengalami kenaikan.

"Penghematan anggaran ini tergantung besaran kenaikan harga BBM," tandasnya.

Seperti diketahui, harga BBM batal dinaikan per 1 April 2012. Dalam putusan revisi UU APBN Perubahan 2012, DPR menyetujui tambahan pasal 7 ayat 6 A yang memberi keleluasan bagi pemerintah menaikkan harga BBM dengan syarat harga minyak mentah dunia mencapai US$ 120 per barel dalam enam bulan terakhir.

(fdn/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads