SBY: Pembahasan Kenaikan BBM Sangat Politis Jelang 2014

SBY: Pembahasan Kenaikan BBM Sangat Politis Jelang 2014

- detikFinance
Sabtu, 31 Mar 2012 22:11 WIB
SBY: Pembahasan Kenaikan BBM Sangat Politis Jelang 2014
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan pembahasan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kemarin sangat politis. Pasalnya, sebentar lagi Indonesia akan menghadapi pemilihan umum (Pemilu) 2014.

"Pembahasan tentang kenaikan BBM sangat politis, sering dikaitkan dengan kepentingan politik menjelang pemilu 2014," kata SBY dalam jumpa pers di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Sabtu (31/3/2012).

Menurutnya, seirng dikaitkannya kenaikan harga BBM dengan iklim politik bukanlah sebuah masalah. Akan tetapi, ia berharap tidak terlalu politis supaya tidak menganggu perekonomian nasional

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal ini tidak salah, tapi kalau sangat terlalu politis maka pembahasan dan pemikiran bisa kurang objektif," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, hasil voting sidang paripurna DPR memutuskan menerima tambahan pasal 7 Ayat 6A. Klausul tambahan dalam APBNP 2012 memberian peluang pemerintah menaikkan dan menurunkan harga BBM bila harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan atau turun rata-rata 15 persen dalam waktu 6 bulan terakhir.

Namun, rencana awal pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter per 1 April 2012 tetap ditolak. Sebab harga rata-rata 6 bulan terakhir belum 15 persen di atas asumsi ICP baru sebesar US$ 105/barel.

Dengan keputusan itu, maka harga BBM belum akan naik pada 1 April besok. Terhadap keputusan itu, Menkeu Agus Martowardojo atas nama pemerintah dalam sambutan akhir seusai sidang Paripurna DPR, menyatakan dapat menerima keputusan sidang tersebut.

"Setelah ikuti dan cermati dinamika dalam rapat paripurna DPR ini, dan telah diputuskan pengambilan rumusan baru Pasal 7 Ayat 6a. Pemerintah menyatakan sependapat dengan hasil itu," katanya.

Pemerintah juga sependapat dengan asumsi baru APBN-P. Yaitu pertumbuhan ekonomi 6,5 persen, inflasi 6,8 persen, harga ICP US$ 105/barel, nilai tukar rupiah Rp 9.000/dolar AS, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 5 persen, dan lifting minyak 930 barel per hari.


(lh/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads