Menurut Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim disparitas harga tersebut tidak hanya terjadi migrasi pengguna BBM, tetapi juga memungkinkan terjadinya BBM non subsidi oplosan.
"Bisa jadi dimanfaatkan oknum, yang biasa ngisi 20 liter Pertamax, 10 liternya diisi Premium, nah percampuran tersebut memang membuat oktan baik dengan harga murah, tapi dijual dengan nama Pertamax," ujar katanya di kantor ESDM, Senin (2/4/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal itu ada beberapa temuan kami memang tidak dijual di SPBU, tapi dijumpai di pedangang pengecer yang menjual Pertamax di pinggir jalan, orang awam yang beli sulit membedakan manayang murni pertamax mana yang pertama oplosan (campuran Premium dengan Pertamax)," katanya.
Seperti diketahui harga Pertamax produksi Pertamina kini sudah tembus Rp 10.200 per liter, sementara BBM non subsidi produk Shell yaitu Super R92 (setara pertamax) sudah dijual Rp 9.950 per liter.
(hen/hen)











































