RON 90 yang merupakan campuran antara premium dan pertamax dinilai sangat berbahaya, pasalnya akan mengakibatkan migrasi dari pengguna murni BBM non Subsidi ke Premix yang masih ada unsur subsidi di dalamnya.
"Yang sangat diwaspadai adalah larinya pengguna BBM non subsidi ke Premix yang diusulkan Pak Widjajono," kata anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha ditemui di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (4/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adanya komponen subsidi menurutnya merupakan dasar masalah, dari mana anggarannya, sementara kalau mau ditambah tidak mungkin.
"Baru kemarin kita babak belur bahas APBN-P, mau diubah lagi supaya ada alokasi dana untuk Premix, kalau Premix tidak mengandung unsur subsidi tidak masalah buat saja, kayak SPBU Shell RON 92 namanya Super, Ron 95 Super extra, tapi harganya kan beda, dan apakah premix bisa harganya Rp 7.250 seperti diusulkan Pak Widjajono, kalaupun tetap mau diusulkan, ya kita bahas nanti di sekitar September waktu bahas RAPBN 2012," katanya.
Selain itu, tidak mungkin juga ada produk, BBM bersubsidi (Premium dan solar), BBM setelah subsidi (Premix) dan BBM non subsidi (pertamax cs). "Masyarakat perlu kejelasan tidak boleh dibuat bingung seperti itu, ide mirip seperti itu, premium bersubsidi dan premium harga keekonomian saja kita tolak mentah-mentah," tandas Satya.
(rrd/hen)











































