Direktur Jenderal Kelistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan, hingga sekarang masih ada 16,8 juta keluarga yang belum mendapat pelayanan listrik atau sebesar 27,05 persen.
Ia menyebutkan sebagian besar masyarakat yang belum mendapat pasokan adalah di daerah terpencil di kawasan Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur, Ambon, Papua. Masalah akses wilayah serta kekurangan jumlah pembangkit listrik menjadi pemicu kekurangan pasokan listrik di daerah-daerah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun demikian, Jarman juga tetap memprioritaskan pemenuhan listrik di Jawa-Bali. Ia menargetkan ada pengurangan penggunaan BBM oleh pembangkit listrik di Jawa- Bali dengan mengoptimalkan bahan bakar lain seperti batubara. Misalkan dari target tahun ini sebanyak 2,5 juta kilo liter (KL) bisa dikurangi 400 ribu KL sehingga menjadi 2,1 KL.
"PLN sudah mengupayakan hal tersebut dalam penggunaan BBM," paparnya.
Jarman menuturkan, saat ini PLN (Persero), masih menjadi penyedia terbesar listrik domestik dengan angka 70 persen. Sedangkan, sisanya 30 persen penyedia dari swasta dan lainnya. Lanjutnya, dia tidak menampik kalau persentase pertumbuhan pemasangan listrik domestik masih kecil dengan rata-rata hanya 9 persen.
Tapi, ia menuturkan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi, pemerintah juga memprioritaskan pengembangan panel surya komunal di daerah luar Jawa terutama Indonesia Timur.
"Selama ini daerah tersebut masih menggunakan pembangkit listrik bertenaga diesel," tukasnya.
(dru/dnl)











































