Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur Pertamina Hulu Energi, Salis Aprilian di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (5/4/2012).
Ia mengungkapkan, tiga blok migas di Asia Tenggara yang telah dieksplorasi PHE yaitu blok 10 dan 11 di Vietnam dan 1 blok migas SK-305 yang terletak di Malaysia, saat ini yang paling menguntungkan adalah blok yang ada di Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Produksi di Malaysia kebanyakan gas. Saat ini, kami sedang negosiasi untuk harga gas," ujarnya.
Sayangnya, blok S-305 itu saat ini hanya mampu memproduksi minyak 3.000 barel per hari, padahal awalnya dapat berproduksi 7.000 barel per hari. Menurutnya hal ini dikarenakan beberapa hal.
“Tapi ini masih menguntungkan,” ucapnya
Sementara itu, di blok migas 10 dan 11 yang terletak di Vietnam, menurut Salis, dari sebelumnya berproduksi 6.000 barel per hari, kini turun menjadi 2.000 barel per hari. Produksi gas mencapai 200 mmscfd (juta standar metrik kaki kubik per hari).
Salis menambahkan, untuk blok BMG di Australia, baru memproduksi minyak 100 barel per hari. Hal ini membuat produksi blok BMG tidak ekonomis. Pertamina Hulu yang mempunyai 10% saham, sedang mengkaji untuk memindahkan sahamnya ke aset lain.
Sedangkan blok 17-3 dan 123-3 di Midle East yaitu Libya dan blok 3-WD di Irak, menurutnya masih terhenti karena pemerintah setempat belum memberikan izin. Saat ini, hanya ada kantor perwakilan Pertamina di Libya dan Irak. "Belum ada lampu hijau dari pemerintah sana, tapi kami telah informasikan ini daerah Pertamina," kata Salis.
Sama seperti Libya dan Irak, blok 13 di Sudan juga masih belum berjalan karena masih ada konflik. "Namun, kami sudah bisa akses, karena terletak di Sudan Utara," tuturnya.
(dnl/dnl)











































