Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo menyatakan, saat BBM subsidi mencapai Rp 6.000/liter, banyak masyarakat yang berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum termasuk bus Transjakarta.
"Begitu harga BBM bersubsidi turun jadi Rp 4.500 liter hingga sampai saat ini, orang kembali naik kendaraan pribadi lagi. Orang tidak lagi menghemat energi tetapi menghemat uang," kata Widjajono dalam surat elektroniknya terkait pandangan pribadinya yang dikutip, Senin (9/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Widjajono, terkait adanya penolakan kenaikan harga BBM menurutnya kalau seseorang menyikapi kenaikan harga BBM dengan arif maka pengeluarannya justru berkurang kalau di hari-hari kerja dia menggunakan transportasi umum dan hanya menggunakan mobil pribadi di akhir pekan atau hanya untuk silaturahmi.
"Pengguna transportasi umum adalah Patriot, karena menghemat uang negara, menghemat energi dan polusi," tegas pria yang juga Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
Menurutnya, kenaikan harga BBM subsidi yang seharusnya dilakukan 1 April 2012 dan batal, justru akan menyebabkan energi lain seperti batubara, gas, panas bumi, air dan bioenergi, serta energi baru (misalnya Coal Bed Metane dan Shale Gas) dan terbarukan lainnya banyak dibutuhkan dan diproduksi.
"Dan tentunya jika makin dibutuhkan, akan memberikan lapangan kerja, penghasilan dan pertumbuhan ekonomi serta berkembangnya daerah-daerah di luar Jawa," ujarnya.
Pesan Widjajono, ketergantungan yang berlebihan terhadap minyak dan luar negeri adalah ketidakmandirian. Tidak menggunakan energi yang kita miliki secara optimal adalah tidak bijaksana. Mengkonsumsi energi yang mahal tetapi tidak mengkonsumsi energi murah yang kita miliki adalah kebodohan.
"Cara meminimalkan subsidi BBM untuk transportasi dan listrik adalah dengan sesedikit mungkin memakai BBM. Akibatnya, Indonesia mempunyai dana lebih banyak untuk membuat Indonesia lebih cepat menjadi Negara Terpandang di Dunia. Dengan mengurangi ketergantungan kepada BBM maka Insya Allah Indonesia menjadi lebih baik," tukas Widjajono.
(rrd/ang)











































