Dirjen Migas Evita Herawati Legowo mengatakan, untuk kegiatan pengeboran sumur minyak di laut dalam, bagi hasil yang dijanjikan pemerintah adalah 65:35. Ini berarti 65% untuk pemerintah, dan sisanya untuk investor.
"Hasil pengeboran minyak melalui on shore (pengeboran di wilayah darat) sudah menurun hasilnya, namun kita tetap membutuhkan minyak dan gas karena produksi minyak merupakan salah satu tulang punggung pendapatan negara sekitar 20-25%, untuk mendorong produksi minyak salah satunya ada di laut dalam (deep offshore)," kata Evita di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (11/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini seperti dikatakan Presiden Director & GM Total E&P Indonesie, Elisabeth Proust mengatakan tantangan utama dalam memproduksi enerfi laut dalam adalah menghadapi kondisi ekstrem laut dalam seperti suhu rendah dan tekanan yang tinggi.
Kendala yang menantang dari lingkungan laut dalam tersebut ditambah pula dengan biaya tinggi dari infrastruktur terkait untuk mendapatkan produksi yang optimal.
"Namun total telah memiliki pengalaman dan teknologi dalam mengekplorasi dan mengembangkan bidang pengeboran laut salam di beberapa negara," ujar Elisabeth.
Saat ini sudah ada beberapa proyek yang sudah mulai pada tahap ekplorasi laut dalam, seperti proyek pengembangan lapangan abadi di blok masela yang dikelola oleh inpex atau chevron di proyek IDD (Indonesia Deepwater Development), Lapangan Abadi di Blok Masela yang dikelola oleh Inpex dan lapangan Jangkrik di Blok Muara Bakau yang dikelola oleh ENo Spa.
(rrd/dnl)











































