Tiap Hari Indonesia Impor BBM 500.000 Barel

Tiap Hari Indonesia Impor BBM 500.000 Barel

Rista Rama Dhany - detikFinance
Rabu, 11 Apr 2012 20:32 WIB
Tiap Hari Indonesia Impor BBM 500.000 Barel
Jakarta - Kebutuhan BBM dalam negeri saat ini ditaksir mencapai 1,3 juta kiloliter (KL), sementara produksi BBM di Indonesia kurang dari 540.000 barel per hari (bph). Indonesia terpaksa impor sekitar 500.000 bph.

Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Pengendalian Produksi, Badan Pelaksanan Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) Rudi Rubiandini mengatakan Indonesia merupakan negara importir minyak, tiap hari harus impor 500.000 bph untuk menutupi tingginya kebutuhan BBM tiap harinya.

"Kebutuhan BBM kita tiap hari mencapai 1,3 juta barel per hari, sementara produksi minyak kita yang murni bagian yang di dapat pemerintah hanya 540.000 barel per hari dan itu tidak semuanya jadi BBM," ujar Rudi ketika berbincang dengan wartawan di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (11/4/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makanya kata Rudi untuk menutupi kebutuhan tersebut pemerintah harus impor minyak, bayangkan tiap hari impor 500.000 barel per hari.

Secara total, Rudi mengatakan impor produk minyak yang diimpor Indonesia tiap harinya adalah 700 ribu barel. Dari jumlah ini 200 ribu barel merupakan minyak mentah dan sisanya dalam bentuk BBM.

"Saat ini produksi minyak kita di bawah yang ditetapkan dalam asumsi APBN-P 2012 yakni 930.000 bph, produksi minyak kita saat ini hanya sekitar 885.000 bph, kondisi ini tentunya akan berdampak pada meningkatnya jumlah impor minyak," kata Rudi.

Sebenarnya menurut Rudi, turunnya produksi minyak tidak terlalu besar dampaknya bagi keuangan negara untuk menyubsidi BBM. Dampak terbesar lebih dikarenakan naiknya harga minyak dunia.

"Sebanyak 10.000 barel produksi minyak turun dampaknya kecil jika dibandingkan harga minyak naik US$ 10 per barel, itu memerlukan subsidi yang sangat besar, kalau dibandingkan dampaknya turun produksi sama kenaikan harga minyak 1:20. Kenapa jangan lupa kita adalah negara importir minyak," tandasnya.

Rudi mengatakan, dengan besarnya nilai impor BBM dan harga BBM subsidi yang masih Rp 4.500 per liter membuat nilai subsidi yang dikeluarkan pemerintah sangat besar.

"Sementara di saat kita harus impor minyak cukup besar tiap harinya, harga BBM masih Rp 4.500, padahal harga minyak cukup tinggi. Bayangkan harga minyak naik US$ 1 barel negara dibebani subsidi ratusan miliar," tukas Rudi.

Menurut data dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, kenaikan harga minyak US$ 1 per barel dengan asumsi kurs Rp 9.000 per dolar akan menaikan penerimaan ke negara sebesar Rp 3,37 triliun.

Namun kenaikan US$ 1 barel itu juga meningkatkan pengeluaran negara dalam jumlah yang lebih besar, yakni Rp 4,3 triliun.

Peningkatan pengeluaran Rp 4,3 triliun itu berasal dari kenaikan subsidi BBM sebesar Rp 2,83 triliun, subsidi listrik Rp 280 miliar dan dana bagi hasil untuk daerah Rp 470 miliar dan kenaikan anggaran pendidikan secara otomatis sebesar Rp 720 miliar.

Jadi secara netto setiap ada kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel, APBN harus menanggung beban tambahan Rp 900 miliar. Beban totalnya tinggal mengalikan jumlah ini dengan berapa dolar kenaikan harga minyak yang terjadi.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads