Dirut Sucofindo Arief Safari mengatakan pihaknya merupakan yang pertama kali mengusulkan agar ada semacam kartu kendali (smart card). Ia pun menegaskan siap jika kini ditugaskan pemerintah untuk mengerjakan kartu pintar untuk pengendalian BBM bersubsidi.
"Kami yang mengusungkan, sejak 2008 kami yang pertama kali mengusulkan," kata Arief kepada detikFinance, Jumat (13/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan sampai saat ini pihaknya belum ada kabar dari pemerintah untuk mengerjakan program kartu pintar pengendali pembatasan BBM. Arief pun tak tahu apakah pemerintah sudah menyiapkan program stiker elektronik ini dengan memakai perusahaan lain di luar Sucofindo,
"Untuk smart card kita punya pengalaman di smart card pembayaran subsidi minyak tanah pilot project, kartu PNS elektronik sudah berhasil, kita sudah punya pengalaman, dengan 62 cabang dan 2.700 pegawai bisa dikerahkan untuk program massal, termasuk pembimbing teknis operator program e-KTP," katanya.
Pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) masih mempertimbangkan dua opsi soal penggunaan instrumen pembatasan BBM subsidi. BPH Migas mempertimbangkan alat yang berbasis IT semacam smart card dan non IT dalam bentuk stiker elektronik.
(hen/dnl)











































