Pengusaha Nasional Oesman Sapta Odang geram dengan kebijakan pemerintah yang hingga sampai saat ini rajin ekspor batubara. Padahal batubara tersebut untuk menghidupkan pembangkit listrik di negara tujuan ekspor sementara di daerah tambang batubara listrik malah byar pet.
"Makanya saya sangat mendukung penuh kebijakan pemerintah melarang ekspor Raw Material pada 2014 nanti apabila perusahaan tambang tidak membuat smelter atau pabrik pemurnian bahan tambang yang akan diekspor," kata pengusaha yang akrab disapa Oso ini, di City Tower ICBC, Jakarta, Kamis (19/4/2012).
Menurut Oso, dirinya memang bertentangan dengan para pengusaha (Kadin) yang menentang kebijakan Dirjen Mineral Batubara tersebut. "Coba dipikir, sudah berapa jutaan ton batubara yang kita ekspor, tetapi nyatanya keadaan di Kalimantan, Sumatera yang banyak lokasi tambang, lampunya mati-nyala, sementara Singapura terang benderang," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dirinya juga sadar akan ketakutan para pengusaha, jika tidak mempunyai perencanaan pembangunan smelter maka akan dilarang ekspor.
"Jangan ah, pikirkan juga kontrak perjanjian yang harus ditanggung pengusaha, tetapi masih bisa ekspor tapi tidak banyak. Apalagi pembangunan smelter bisa patungan, bisa sewa, jadi tidak perlu bangun sendiri," tandasnya.











































