Direktur Keuangan Partai Demokrat Ikhsan Modjo mengatakan, di 2014, jika harga premium tidak naik, maka konsumsi BBM subsidi bisa mencapai 80 juta KL atau naik 100% dari kuota saat ini. Akibatnya, subsidi BBM bakal melonjak tinggi.
Perkiraan Ikhsan ini berkaca pada lonjakan konsumsi BBM subsidi di 2010 yang sebesar 20 juta KL, dan pada 2012 melonjak mencapai 40 juta KL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini kata Ikhsan dikarenakan disparitas harga antara BBM subsidi dan non subsidi yang terlampau jauh dan tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan yang diikuti pula dengan melonjaknya konsumsi BBM masyarakat.
"Kalau tidak segera dikendalikan bukan tidak mungkin pada 2013 konsumsi BBM bersubsidi melonjak menjadi 60 juta KL, 2014 bisa 80 juta KL. Yang 40 juta KL saja saat ini sudah sangat membebani keuangan negara, makanya karena kenaikan harga BBM tidak bisa maka pembatasan BBM adalah jalan satu-satunya," jelas Ikhsan.
Kalau secara kasat mata kedepannya sudah melonjak seperti itu dan pemerintah tidak bertindak apa-apa, ini bahaya. "Bahaya ini kalau pemerintah dan kita semua tidak berubah, bijak dalam mengkonsumsi energi," tandasnya.
Saat ini harga premium masih bertahan di Rp 4.500 per liter, sementara harga pertamax sudah menembus Rp 10.000 per liter.
(rrd/dnl)











































