Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan hal ini karena polemik soal BBM subsidi membuat rakyat rugi. Lihat saja, harga-harga sembako sudah naik karena rencana kenaikan harga BBM. Namun setelah diputuskan batal, harga sembako tak mau turun.
"Negara ini tidak hanya pemerintah saja tetapi DPR juga telah melakukan tindakan terorisme kepada rakyatnya. Ini karena polemik yang berputar-putar hanya membahas kebijakan BBM sejak Januari-April membuat psikologis rakyat terkoyak-koyak, demonstrasi terjadi di mana-mana bahkan jatuhnya korban luka-luka dan kerugian, penimbunan BBM dan banyak lagi karena hanya melihat pergolakan politik membahas BBM semata," kata Tulus dalam diskusi 'Polemik' soal BBM di Cikini, Jakarta, Sabtu (21/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi ternyata harga BBM tidak jadi naik, namun harga bahan pokok tidak turun. Apa ini tidak merugikan rakyatnya? Belum lagi bahan-bahan bangunan juga sudah naik, dan ironisnya tarif angkutan malah diusulkan ikut naik padahal BBM-nya tidak jadi naik," tegas Tulus.
Kata Tulus, YLKI meminta pemerintahan ini berhenti untuk berpolemik soal kenaikan harga BBM subsidi.
"Berhenti membuat resah masyarakat, setop bahan yang BBM jika tidak ada keseriusan, lepaskan kebijakan BBM dari unsur-unsur politisasi. Pasalnya sejak zaman Orde Baru hingga sampai rezim ini kebijakan BBM tidak bisa dilepaskan dari unsur politik," tandas Tulus.
(rrd/dnl)











































