Bantuan Pemerintah untuk Biofuel 'Hangat-hangat Tahi Ayam'

Pemikiran Energi Widjajono

Bantuan Pemerintah untuk Biofuel 'Hangat-hangat Tahi Ayam'

Wahyu Daniel - detikFinance
Senin, 23 Apr 2012 10:24 WIB
Bantuan Pemerintah untuk Biofuel Hangat-hangat Tahi Ayam
Jakarta -

Almarhum Widjajono Partowidagdo meninggal di Gunung Tambora, Sabtu lalu. Namun pada Agustus 2008, Widjajono pernah menaklukan gunung tersebut. Usai mendaki, dia pun menemukan kisah menarik terkait perkembangan energi di Indonesia. Apakah itu?

Dalam bukunya berjudul 'Migas dan Energi di Indonesia; Permasalahan dan Kebijakan', Widjajono mengatakan, pada pertengahan Agustus 2008 dia menaklukan Gunung Tambora untuk mengibarkan merah putih dengan para pencinta alam dari Yepe (Young Pioneer).

Usai mendaki, dia melihat pengembangan energi biofuel minyak jarak di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Dia menceritakan, penduduk di daerah tersebut membutuhkan mesin pemeras biji jarak manual dan kompor minyak jarak supaya bisa menggunakan jarak untuk dikonsumsi sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sedih mengetahui para petani tembakau di Lombok Timur yang menangis karena minyak tanah langka ketika panen. Akibatnya tembakaunya tidak dikeringkan dan busuk. Padahal Lombok Timur punya banyak tanaman jarak. Tetapi petani belum paham mengubahnya menjadi energi. Bantuan pemerintah untuk pengembangan biofuel seperti hangat-hangat tahi ayam," tutur Widjajono dalam bukunya yang dikutip detikFinance, Senin (23/4/2012).

Widjajono juga menyayangkan soal wilayah Rinjani di Lombok yang mempunyai potensi panas bumi untuk listrik yang besar (70 MWe) namun belum dikembangkan.

Diceritakan Widjajono, keberhasilan pengembangan biofuel dan pengentasan kemiskinan membutuhkan banyak pejabat, baik di pemerintah maupun BUMN (Pertamina, PLN, dan lain-lain) yang punya hati nurani untuk menolong sesama bangsanya daripada hanya memikirkan berapa banyak 'bagian' yang dia peroleh dari proyek pemerintah.

"Keberhasilan tersebut juga membutuhkan pengusaha dan LSM yang peduli menolong mereka yang miskin dan bukan yang banyak mengambil keuntungan dari program pengentasan kemiskinan. Negeri ini butuh politisi dan pakar yang sibuk memberdayakan masyarakat supaya mandiri dan bukan memperdayakan (membingungkan) masyarakat dengan asling menyalahkan sesama bangsanya," tutur Widjajono.

Di samping itu juga diperlukan masyarakat yang cerdas, bekerja ikhlas, mandiri, peduli, dan bersahabat.

"Seperti pada sebuah lagu Jawa: Negeri yang adil dan makmur membutuhkan adilnya pemimpin, amalnya pengusaha, ilmunya ulama (akademisi), dan sabarnya fakir," kata Widjajono.

"Sebagai orang yang percaya energi positif, saya menganjurkan agar kita berusaha untuk tidak saling menyalahkan (bisa menahan diri), melainkan berusaha memperbaiki keadaan. Cobaan untuk orang yang berpikir akan membuat dia makin baik. Tetapi untuk yang kurang mau berpikir akan menyalahkan semua pihak dan marah. Dengan makin banyaknya energi positif di Indonesia, maka Insya Allah kita mendapat rahmat-Nya sehingga menjadi lebih baik," cetus Widjajono.

(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads