Ternyata Lusi yang dimaksud oleh Widjajono adalah Lumpur Sidoarjo (Lusi). Dalam bukunya, Widjajono mengulas soal permasalahan semburan lumpur tersebut.
Widjajono menceritakan, pernah ada kongres American Association of Petroleum Geologist di Cape Town yang membahas soal semburan lumpur ini. Dari 90 peserta yang membahas tema lumpur Lapindo, 3 suara menyatakan penyebab semburan adalah gempa Yogya, 42 menyatakan akibat pemboran, lalu 13 adalah kombinasi keduanya, dan 16 belum bisa mengambil opini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Widjajono, soal lumpur Lapindo ini memang masih bertarung dua pemikiran antara kesalahan prosedur pemboran atau adanya fenomena alam di tempat pemboran tersebut. Bahkan tak jarang perdebatan soal lumpur ini sering diwarnai oleh persoalan politis karena mengaitkan nama Aburizal Bakrie.
Namun, Widjajono tidak bisa mengambil kesimpulan terkait semburan lumpur yang sampai saat ini belum juga berhenti. Karena Widjajono tidak cukup banyak belajar geologi.
"Sebagai seorang yang pernah belajar teknik pemboran, saya tahu bahwa blow out (semburan fluida liar) dapat diakibatkan oleh kesalahan pemboran. Ini terjadi karena tidak dipasangnya casing (selubung logam) ketika melalui tekanan abnormal. Yang saya tidak ketahui adalah apakah pada saat bersamaan terjadi fenomena alam," tegas Widjajono.
Dalam keadaan dilematis terkait semburan lumpur ini, Widjajono mempunyai pemikiran sendiri untuk mengatasi permasalahan Lumpur Sidoarjo ini.
"Saya mengusulkan supaya upaya mengatasi permasalahan Lumpur Sidoarjo ditangani dengan biaya 50% oleh Lapindo dan 50% oleh pemerintah," katanya.
Widjajono meminta sebelum dilakukan operasi pemboran berikutnya, perlu dilakukan pemotretan keadaan di bawah tanah. Perlu masukan dari ahli geologi dan geofisika mengenai cara yang akan dipakai. Apakah 3D seismic atau gravity.
"Ada yang berpendapat tidak mungkin produksi lumpur sebesar 150 ribu m3 per hari atau 943 ribu barel per hari dapat ditutup hanya di satu lubang sumur. Ada juga yang berpendapat itu bisa dilakukan," jelasnya.
Menurutnya tanpa dibekali potret, operasi pemboran tersebut ibarat operasi kanker usus tanpa mengetahui apakah kanker itu hanya di sebagian usus atau sudah menjalar ke mana-mana. Mungkin saja dari potret tersebut bisa diketahui apakah Lusi akibat proses pemboran, fenomena alam atau keduanya.
"Galileo membuktikan bahwa bumi itu bulat melalui teropongnya," tutup Widjajono.
(dnl/hen)











































