Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun mengatakan, jumlah konsumsi bensin premium di Indonesia pada 2011 mencapai 24 juta kiloliter (KL). Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 juta KL diproduksi di dalam negeri, dan sisanya 12 juta KL harus diimpor.
"Tahun ini jika konsumsi BBM subsidi bertambah, maka impor premium pasti melebihi 12 juta KL. Apalagi harganya tetap murah," jelas Harun kepada detikFinance, Selasa (24/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun ini konsumsi (premium) bisa bertambah, yang artinya impor lebih besar. Apalagi kami belum ada penambahan kilang BBM baru," kata Harun.
Harun mengatakan, jika pemerintah membiarkan harga premium seperti saat ini, maka nilai subsidi BBM yang dikeluarkan bakal besar. Asal tahu saja, harga premium jika tidak disubsidi (keekonomian) hanya beda Rp 200 per liter dari pertamax. Jadi jika saat ini pertamax Rp 10.000 per liter, maka harga premium tanpa subsidi adalah Rp 9.800 per liter. Artinya jika premium dijual Rp 4.500 per liter, maka nilai subsidi yang diberikan pemerintah adalah Rp 5.800 per liter.
"Jadi tidak tepat jika subsidi sedemikian besar diberikan untuk BBM ini, harusnya dana subsidi ini dialihkan kepada sektor-sektor yang lebih produktif," cetus Harun.
Almarhum Widjajono Partowidagdo dalam bukunya 'Migas dan Energi di Indonesia: Permasalahan dan Kebijakan' mengatakan, harga BBM subsidi yang rendah menyebabkan diversifikasi energi tak berjalan dan sebabnya, ketergantungan kepada impor minyak dan BBM makin besar. Akhirnya yang diuntungkan adalah mafia minyak.
"Ini justru menguntungkan para pengimpor (saat ini sedang popular istilah mafia minyak)," jelas Widjajono dalam buku terbitan Development Studies Foundation.
(dnl/ang)











































