Ketergantungan BBM, Impor Premium Tembus 12 Juta Kiloliter

Ketergantungan BBM, Impor Premium Tembus 12 Juta Kiloliter

- detikFinance
Selasa, 24 Apr 2012 07:46 WIB
Ketergantungan BBM, Impor Premium Tembus 12 Juta Kiloliter
Jakarta - Masyarakat Indonesia masih terus dimanjakan pemerintah dan DPR supaya tergantung akan BBM murah. Meski harga minyak dunia tinggi, harga BBM subsidi tetap ditahan Rp 4.500. Hasilnya, konsumsi BBM subsidi terus melonjak dan Pertamina terpaksa menambah impor.

Vice President Corporate Communication Pertamina M. Harun mengatakan, jumlah konsumsi bensin premium di Indonesia pada 2011 mencapai 24 juta kiloliter (KL). Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 juta KL diproduksi di dalam negeri, dan sisanya 12 juta KL harus diimpor.

"Tahun ini jika konsumsi BBM subsidi bertambah, maka impor premium pasti melebihi 12 juta KL. Apalagi harganya tetap murah," jelas Harun kepada detikFinance, Selasa (24/4/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harun mengakui, kapasitas kilang BBM Pertamina sampai saat ini belum ada penambahan sehingga tidak mampu melayani melonjaknya konsumsi BBM subsidi yang terus terjadi tiap tahun. Apalagi harga bensin premium yang tetap dipatok Rp 4.500 per liter membuat konsumsi melonjak.

"Tahun ini konsumsi (premium) bisa bertambah, yang artinya impor lebih besar. Apalagi kami belum ada penambahan kilang BBM baru," kata Harun.

Harun mengatakan, jika pemerintah membiarkan harga premium seperti saat ini, maka nilai subsidi BBM yang dikeluarkan bakal besar. Asal tahu saja, harga premium jika tidak disubsidi (keekonomian) hanya beda Rp 200 per liter dari pertamax. Jadi jika saat ini pertamax Rp 10.000 per liter, maka harga premium tanpa subsidi adalah Rp 9.800 per liter. Artinya jika premium dijual Rp 4.500 per liter, maka nilai subsidi yang diberikan pemerintah adalah Rp 5.800 per liter.

"Jadi tidak tepat jika subsidi sedemikian besar diberikan untuk BBM ini, harusnya dana subsidi ini dialihkan kepada sektor-sektor yang lebih produktif," cetus Harun.

Almarhum Widjajono Partowidagdo dalam bukunya 'Migas dan Energi di Indonesia: Permasalahan dan Kebijakan' mengatakan, harga BBM subsidi yang rendah menyebabkan diversifikasi energi tak berjalan dan sebabnya, ketergantungan kepada impor minyak dan BBM makin besar. Akhirnya yang diuntungkan adalah mafia minyak.

"Ini justru menguntungkan para pengimpor (saat ini sedang popular istilah mafia minyak)," jelas Widjajono dalam buku terbitan Development Studies Foundation.

(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads