Stop Impor BBM, Galakkan Bensin dari Singkong!

Pemikiran Energi Widjajono

Stop Impor BBM, Galakkan Bensin dari Singkong!

- detikFinance
Selasa, 24 Apr 2012 07:58 WIB
Stop Impor BBM, Galakkan Bensin dari Singkong!
Jakarta - Almarhum Widjajono Partowidagdo mengkritik Indonesia yang rajin mengimpor BBM dan pangan. Padahal Indonesia adalah negara yang sektor industrinya relatif ketinggalan dibanding negara-negara tetangga.

"Adalah sangat lucu apabila Indonesia yang sektor industrinya relatif ketinggalan tapi pangannya atau bahkan energinya mengimpor dari negara lain. Pertanyannya kemudian adalah bayarnya pakai apa? Apakah kita perlu menambah utang lagi?" kata Widjajono dalam bukunya 'Migas dan Energi di Indonesia: Permasalahan dan Kebijakan' terbitan Development Studies Foundation yang dikutip detikFinance, Selasa (24/4/2012).

Menurutnya, penambahan utang terus menerus akan memberikan beban kepada anak cucu dan pembangunan tidak berkelanjutan. Padahal syarat pembangunan berkelanjutan adalah kita harus berusaha mandiri di bidang pangan dan energi. Terutama sebelum sektor industri kita bisa bersaing dengan negara lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, agar Indonesia bisa mandiri di sektor energi, ketergantungan terhadap BBM harus pelan-pelan dihilangkan.

"Indonesia punya cukup lahan untuk memenuhi kebutuhan energinya dengan menggunakan energi biomassa (singkong dan sebagainya) untuk membuat ethanol," jelas Widjajono.

Menurut Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, beberapa negara Amerika latin sudah menggunakan gasohol, yaitu campuran ethanol (10%) dan bensin (90%).

"Andaikata kita mengikutinya, maka kita dapat menghemat 10% konsumsi bensin di Indonesia. Energi terbarukan lain di Indonesia adalah panas bumi dan tenaga air, sedangkan di pedesaan ada limbah pertanian, perkebunan, serta daerah pertanian yang memiliki industri kayu," kata Widjajono.

Untuk mengembangkan energi biomassa seperti dari singkong ini diperlukan proyek percontohan terlebih dahulu. "Pembangkit energi dari biomassa buatan Pusat Penelitian Energi ITB tidak berkembang karena rakyat lebih suka memakai energi dari solar atau minyak tanah yang harganya disubsidi," tutur Widjajono.

Dalam buku tersebut, Widjajono mencontohkan satu negara Amerika Latin yakni Brasil. Meskipun produksi dan konsumsi minyaknya dua kali Indonesia serta cadangan minyaknya tiga kali Indonesia, namun harga BBM di Brasil di atas Rp 14.000 dan menggalakkan pemakaian bioethanol.

"Dengan demikian penerimaan minyaknya utuh karena tidak ada subsidi BBM dan bahkan mengenakan pajak BBM. Sekarang kita perlu belajar dari Rusia, China, India, Brasil, bahkan Malaysia dan Iran," tutup Widjajono.

Menurut Widjajono, selama pemerintah menahan harga BBM tetap murah, maka pengembangan energi alternatif seperti biomassa tidak akan berkembang. Alhasil, impor BBM tetap akan terjadi di tengah harga minyak yang terus mahal.


(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads