Atas bantahan tersebut membuat Qoyum geram. "Dari mananya yang sangat keliru dan menyesatkan," kata Qoyum kepada detikFinance, Kamis (25/4/2012).
Dikatakan Qoyum dirinya tidak asal bicara dan asal hitung. "Saya ini pioner pembangunan LNG, saya juga yang membangun infrastruktur gas, saya tahu hitungannya dan permainannya," tegas Qoyum yang juga pernah menduduki jabatan Dirut Perusahaan Gas Negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Loh?, saya tanya, harga minyak sama gas mahal mana? Minyak kan sementara kita ekspor gas dengan harga murah untuk mendapatkan minyak yang besarannya sama, itu kan rugi," ucapnya.
Menurut Qoyum antara gas dan minyak sama hanya beda departemen saja. "Justru saya yang bingung, kemarin dia bilang justru harga gas sama karena harga minyak lagi turun gas naik, sekarang bilang tidak bisa disamain. Yang berubah-ubah itu mereka sendiri," imbuh Qoyum.
Dan perlu diingat, untuk produksi minyak Duri, Negara ini dirugikan tidak hanya Rp 3,3 triliun/tahun seperti banyak diberitakan dimedia, tetapi US$ 2,2 miliar/tahun atau setara dengan Rp 19,8 triliun/tahun.
"Negara yang rugi tetapi pihak ketiga yakni Chevron (PT Chevron Pafic Indonesia/CPI) yang untung gede (besar)," ujarnya Qoyum.
"Jadi jangan bilang saya menyesatkan, saya ini pioner dalam pembangunan gas, saya tidak asal ngomong," tandas Qoyum.
Sebelumnya, Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas BP Migas, Gde Pradnyana mengatakan tidak benar bahwa ekspor gas bumi mengakibatkan negara mengalami kerugian Rp 183 triliun.
"Jadi hitung-hitungan yg menyebutkan bahwa ekspor gas merugikan negara hingga Rp.183 triliun/tahun jelas sangat keliru dan menyesatkan," kata Gde kepada detikFinance, Rabu (25/4/2012).
Sebab, kata Gde hitungan tersebut mengasumsikan harga gas rata-rata sama dengan harga minyak (yaitu US$ 111 per barel oil equivalent (boe) atau setara gas rata-rata sekitar US$ 18,5 per mmbtu).
"Sebagai pembanding, harga gas ekspor melalui pipa atau LNG ke pasar Asia-Pasifik saat ini rata-rata sekitar US$ 15 per mmbtu. Itu bisa dicapai jika harga minyak mentah dunia mencapai sekitar $120/barel," jelas Gde.
(rrd/dru)











































