"Intinya kalau tarif masih murah, byar pet (pemadaman) itu pasti sering terjadi. Agar byar pet ini tidak sering terjadi salah satu solusinya harga tarif listrik harus naik," kata Pengamat Kelistrikan Iwa Garniwa, Kamis (26/4/2012).
Menurut Iwa, masyarakat saat ini harusnya sadar, bahwa listrik bukan lagi barang yang murah. "Pasalnya di Indonesia banyak sekali pembangkit listrik masih menggunakan bahan bakar minyak, dimana BBM ini harganya mahal," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya dengan harga listrik yang murah seperti saat ini, PLN sulit untuk memberikan pelayanan optimal. "Tiap tahun pertumbuhan pengguna listrik tumbuh 9%, sementara investasi untuk mengimbangi pertumbuhan kurang dari 9%," ucapnya.
Ditegaskan Iwa, selama harga listrik murah dan disubsidi akan sulit untuk PLN memberikan pelayanan terbaiknya. "TDL kita sampai saat ini masih mengandung subsidi, dimana harga listrik sendiri diatur dalam regulasi, tetapi yang perlu diingat memproduksi listrik banyak yang menggunakan minyak (BBM) dimana PLN BBM nya non subsidi atau mengikuti harga pasar, Tarifnya diatur tetapi produksinya berdasarkan harga pasar ya aslinya PLN babak belur," tegas Iwa.
Iwa bilang, PLN perlu mendapatkan dana untuk investasi, tidak cukup dengan hanya subsidi, dengan tarif yang kompetitif membuat PLN mempunyai dan untuk investasi pembangunan gardu, pembangkit dan sebagainya.
"Kita masyarakat di Jawa khususnya jangan lah egois. Ingat masih ada 28% penduduk Indonesia sampai hari ini belum menikmati listrik, kalau listrik di sini murah dan terus disubsidi, sampai kapan 28% penduduk Indonesia yang belum mendapatkan listrik harus menunggu," tutup Iwa.
(rrd/hen)











































