Para pengusaha SPBU masih bimbang, pasalnya walaupun ditawari dengan margin atau untuk Rp 500/liter untuk penjualan pertamax, namun risikonya pengusaha akan kehilangan keuntungan dalam penjualan ribuan liter bensin premium.
"Ini sudah jadi perhatian kita selama dua hari terakhir, apakah mau beralih ke SPBU Khusus atau tidak. Pasalnya pasar premium juga masih sangat menggiurkan," kata Kentua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas (Hiswana Migas), Eri Purnomo Hadi, ketika ditemui di SPBU COCO Pondok Indah, Jakarta, Jumat (27/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini karena mereka juga menghitung keuntungan besar dari penjualan pertamax apalagi Pertamina bakal menambah margin pertamax sebesar Rp 500 per liter," kata Eri.
Dicontohkan Eri, kalau dengan menjual pertamax 10 ton artinya 10.000 liter x Rp 500 berarti sama dengan Rp 5 juta, namun untuk mendapatkan keuntungan hingga Rp 5 juta dari menjual premium membutuhkan penjualan hingga 30 ton liter premium.
"Ini karena margin premium hanya Rp 180 jadi kira-kira harus jual sekitar 30 ton premium baru bisa dapat keuntungan Rp 5 jutaan, di mana kerjanya lebih berat, SDM-nya lebih banyak. Itu yang jadi pertimbangan mereka," jelas Eri.
Namun dari sisi investasi yang dibutuhkan untuk berubah ke SPBU Khusus tidak membutuhkan biaya yang besar.
"Tidak terlalu besar biaya yang dikeluarkan untuk berubah ke SPBU Khusus, hanya butuhkan biaya puluhan juta terutama untuk clean-up dispenser yang sebelumnya untuk premium diisi pertamax," tegas Eri.
(rrd/dnl)











































