Insentif Tak Dikabulkan, Kuwait Terancam Batal Bangun Kilang Balongan

Insentif Tak Dikabulkan, Kuwait Terancam Batal Bangun Kilang Balongan

- detikFinance
Selasa, 01 Mei 2012 14:14 WIB
Insentif Tak Dikabulkan, Kuwait Terancam Batal Bangun Kilang Balongan
Jakarta - Hingga saat ini Kementerian Keuangan belum menyetujui semua permintaan intensif pembangunan kilang di Balongan yang diminta investor Kuwait Petroleum. Padahal pembangunan kilang tersebut ditargetkan 2015.

"Intensif kilang untuk Kuwait (Kuwait Petroleum) sudah keluar, tetapi hanya beberapa saja yang dikabulkan dari sederet permintaannya," ujar Dirjen Minyak dan Gas, Evita Legowo, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (1/5/2012).

Dikatakan Evita, tak dikabulkannya seluruh intensif kilang dari Kuwait karena beberapa insentif saling berhubungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beberapa permintaan saling berhubungan satu sama lain dan kalaupun dikabulkan semua akan berpengaruh pada impor. Apa saja item yang disetujui saya harus lihat lagi," jelasnya.

Sementara investor lain yaitu Saudi Aramco yang akan membangun kilang BBM di Tuban, Jawa Timur sampai saat ini belum memutuskan insentif yang dimintanya.

"Beda dengan Kuwait, Saudi Aramco memilih tidak menentukan intensif apa saja, mereka jalan dulu dengan melakukan studi baru nanti ditentukan intensif apa saja yang dinginkan," katanya.

Tetapi kata Evita, bentuk intensif tersebut tidak berlaku khusus untuk Kuwait dan Saudi Aramco saja. "Intensifnya tidak berlaku khusus tetapi kalau bisa berlaku untuk umum," ucapnya.

Walau situasinya sedang terhambat seperti saat ini, Evita tetap mengharapkan target pembangunan kilang bisa terlaksana pada 2015.

"Artinya sebelum 2015 segala studi dan segala macam sudah dilakukan, jadi pada 2015 tinggal bangun, dan diharapkan tambahan intensif baru bisa diputuskan tahun ini. Nanti kami akan duduk bareng lagi dengan Kementerian Keuangan dan Pertamina," tegasnya.

Kedua kilang tersebut ujar Evita ditargetkan dapat produksi pada 2018 dengan produksi BBM masing-masing kilang mencapai 300.000 barel per hari.

Sebelumnya, tidak hanya masalah intensif, pembangunan kilang juga terkendala masalah lahan. Menurut Evita, ganjalan pembangunan kilang Balongan Baru adalah masalah penyediaan lahan.

Pihak Kuwait meminta pemerintah yang menyediakan lahan untuk proyek kilang ini. "Sementara kita belum tuntas membicarakan siapa yang harus menyediakan lahan," jelas dia.

Seperti diketahui, sejak 1998 belum ada investor yang merealisasikan rencananya untuk membangun kilang di Indonesia. Padahal Indonesia butuh minimal 3 kilang baru sampai 2015.

Kapasitas kilang domestik saat ini mencapai 1,157 juta barel per hari. Produksi BBM di 2010 mencapai 676 ribu barel per hari sementara kebutuhan BBM di 2010 mencapai 1,064 juta barel per hari.

Maka terjadi defisit BBM di 2010 mencapai 388 ribu barel per hari atau 36%. Sementara di 2012, defisit BBM diperkirakan mencapai 617 ribu barel per hari atau 48%.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads