Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengusulkan ada BBM jenis baru bernama bio-premix maupun Bio-Solar, yang bisa menghemat subsidi hingga Rp 46 triliun.
"Subsidi BBM kita besar sekali hampir sebagian besar penghasilan Minyak dan gas buat subsidi BBM, ini harus dikendalikan salah satunya dengan mengeluarkan produk Bio-Premium dan Bio-Solar," kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material, Unggul Priyanto, di Kantor BPPT, Rabu (2/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bio-Premium campuran 95% premium dan 5% alkohol sedangkan Bio-Solar campuran 95% solar ditambah 10% biodiesel," kata Unggul.
Sedangkan dari sisi harga, perbandingan harga Premix usulan Widjajono sekitar Rp 7.200 per liter. Sementara itu, Bio-Premium harganya hanya Rp 7.000 per liter dan Bio-Solar Rp 6.700 per liter.
"Andai opsi pengguna Bio-Premium dan Bio-Solar ini dipilih, tentu menjadi batu loncatan peningkatan pemakaian biofeul yang dapat mengurangi ketergantungan BBM fosil," ujarnya.
Memang kedepannya jika memang diterapkan untuk tahap awal bioetanol harus diimpor dahulu karena industri dalam negeri tidak ada yang memproduksi. "Tapi ini untuk merangsang industri kita agar bisa produksi bioetanol dan dengan harga yang murah," ucapnya.
Selain itu kata Unggul jika ide ini digunakan pemerintah bisa menghemat Rp 2.000 per liter. "Premium pemerintah subsidi BBM Rp 4.500 per liter, kalau Bio-Premium subsidinya hanya Rp 2.000 per liter. Kalau tahun ini saja kuota Premium 23 juta KL artinya ada 23 miliar liter dikali Rp 2.000 yang dihemat bisa Rp 46 triliun," tandasnya.
(rrd/hen)











































