"Kita memang masih akan evaluasi untuk membuat pilot project (proyek percontohan) di Kalimantan Tengah dan Selatan, nantinya kami akan mendata jumlah motor, mobil dan angkutan umum disana sehingga bisa diketahui berapa kebutuhan BBM bersubsidi per harinya," ujar Vice Presiden Corporate Communication PT Pertamina, kepada wartawan di Restoran Sate khas Senayan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (3/5/2012).
Nantinya, konsumsi BBM kendaraan di kedua daerah tersebut akan dikontrol agar tidak melebihi kuota yang telah ditetapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana ini kata Harus masih terus diupayakan. Ia juga menuturkan alasan kenapa kedua daerah tersebut yang akan menjadi awal percontohan, karena di darerah tersebut banyak terdapat area perkebunan dan pertambangan. Seperti diketahui pemerintah sudah memutuskan kendaraan perkebunan dan Pertambangan tidak boleh membeli BBM bersubsidi.
"Memang nantinya sistem ini seperti RFID (radio frequency identification), tetapi kalau RFID itu masih bisa mengisi di SPBU lain, tapi kalau ini (tools) tidak bisa," ujar Harun.
"Ini sedang kita exercise, semoga saja nanti Juni sudah bisa dimulai, ini inisiatif korporasi tujuannya untuk membantu pemerintah dalam menjaga kuota BBM, kita akan lakukan di daerah-daerah yang rawan penyalahgunaan dan banyak perkebunan dan pertambangan," imbuh Harun.
Ditegaskannya, langkah ini sebagai inisiatif korporasi Pertamina seperti yang telah dilakukan dengan membuat SPBU Non BBM Subsidi, ini juga sama kaitannya agar kuota BBM yang ditetapkan 40 juta KL tahun ini tidak terlewat terlalu besar.
"Kemarin bulan April saja kuota BBM subsidi untuk bulan tersebut over hingga 7%," tandas Harun.
(rrd/hen)











































