"Ini sempat dipertanyakan, apakah mungkin indonesia bisa mempunyai FSRU, kita juga sekarangg bisa melihat, saya juga ikut kemaren di bontang pelepasan LNGnya, tapi sekarang kita melihat kita berada di fsru dan kemudian hari ini kita akan melakukan proses ship to ship," ungkap Direktur Jenderal Migas kemeterian ESDM, Evita H. Legowo kepda wartawan saat melihat poyek FSRU Jawa Barat, Jumat (4/5/2012).
Evita optimistis proyek FSRU akan bisa menghasilkan gas untuk memasok PLTU Muara Karang. "Targetnya 18 Mei betul-betul yang kita di bawah laut bisa selesai, mudah-mudahan bisa segera kita coba sudah positioning menuju ke PLN (PLTU Muara karang), tentunya tidak bisa sekaligus target kami 140 MMSCFD awalnya dari kontraknya," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah infrastruktur pertama kita untuk mengisi kebutuhan domestik terhadap gas. Harganya mungkin lebih tinggi dibandingkan gas pipa tetapi masih lebih baik daripada harga BBM," tambahnya.
Secara terpisah, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM mengatakan kalau proyek FSRU Jawa barat yang dioperasikan oleh PT Nusatara Regas ini berhasil, PLN bisa menghemat biaya operasional mencapai Rp 6 triliun per tahun.
"Ini bisa menghemat sekitar Rp 6 triliun dari penggunaan LNG yang hanya 140 MMSCFD ini," sanggahya.
Sementara Direktur Utama PT Nusantara Regas, Hendra Jaya mengatakan proyek yang menelan investasi mencapai lebih dari $ 500 juta ini, akan mengaliri gas ke PLN dari tengah laut.
"Pipanya itu 15 km, dari sini (kapal) sampai ke sana (Muara Karang), ada dua hal yang dibangun, pipanya dibangun dan kapalnya itu sendiri, sekarang sudah selesai semua dan siap untuk beroperasi. Pertengahan ini kita harapkan sudah mulai kirim ke hanya ke muara karang," tambahnya.
(hen/dnl)











































