Di ibukota Kalteng, Palangkaraya, antrean ratusan kendaraan di sejumlah SPBU masih terjadi hingga saat ini, seperti yang terjadi di SPBU Jalan Imam Bonjol, Jalan Jalan Rajawali, dan Jalan RTA Milono.
"Sudah berlaku instruksi Gubernur Kalteng (Agustin Teras Narang) untuk pembatasan beli BBM di SPBU sempat berkurang antrean. Tapi sekarang antre panjang lagi," kata warga Jalan Intan, Palangkara, Nur Rofiq, ketika dihubungi detikFinance, Senin (14/5/2012) sore WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada polisi di SPBU. Mungkin polisinya capek jaga pembeli BBM yang berulang-ulang. Di sini, ada SPBU yang sore sudah habis," ujar Rofik.
"Penjual eceran semakin banyak. Penjual eceran rata-rata menjual Rp 6.000 per liter. Itu pun tidak 1 botol penuh," tambahnya.
Dihubungi terpisah, warga kota Palangkaraya lainnya, Zainuddin menilai, pembatasan BBM yang dikeluarkan Gubernur Kalteng, tidak efektif untuk mengatasi ataupun mengurangi terjadinya antrean di SPBU.
"Tidak efektif karena masih terjadi antrean yang cukup parah (panjang). Saya melihat sepertinya petugas di SPBU tidak tegas, terkesan membiarkan pembelian berulang-ulang," sebut Zainuddin.
"Mungkin ini antrean di sini (di Palangkaraya) karena kuota BBM di Kalteng dikurangi pemerintah. Itu kan terjadi di seluruh Kalimantan," terangnya.
Zainuddin mengaku heran, antrean panjang memperoleh BBM di SPBU, rata-rata terjadi di daerah Kalimantan. Sedangkan di daerah lainnya di luar Kalimantan, justru saat ini nyaris tidak terdengar terjadi antrean.
"Kenapa ya kok sepertinya sering sekali terjadi antrean panjang di SPBU. Bukan cuma di Palangkaraya, tapi juga ada di daerah lainnya di Kalimantan," ujar Zainuddin heran.
"Dulu sempat antrean panjang waktu BBM mau naik kan? Sempat mereda setelah batal naik, tidak tahunya beberapa pekan ini, antre panjang lagi," ungkapnya.
Beberapa waktu lalu, empat Gubernur di Kalimantan menuntut adanya penambahan kuota BBM, bukan justru dikurangi oleh pemerintah. Pengamatan detikFinance, antrean tidak hanya terjadi di Kalteng yang memiliki 38 SPBU, melainkan juga terjadi di Kalbar, Kaltim, dan Kalsel.
(dnl/dnl)











































