Hal ini disampaikan oleh Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Mochammad Harun yang ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (21/5/2012).
"Kalau 10 tahun lalu ada yang meragukan berbagai data dari Pertamina mungkin iya, tetapi saat ini tidak mungkin karena kita sudah menggunakan sistem komputerisasi yang harganya sangat mahal sehingga tidak bisa dimainkan," kata Harun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami persilakan, siapapun yang meragukan distribusi penjualan BBM bersubsidi bisa mengecek langsung sampai ke SPBU Pertamina," kata Harun.
Pertamina sudah melaporkan data penjualan BBM bersubsidi ke media massa tiap bulan. "Kita pun sudah sampaikan dan publikasikan ke media berapa penjualan BBM bersubsidi, tapi kalau tetap tidak percaya atau meragukan kami persilakan siapapun mengecek langsung penjualan BBM ke tiap SPBU," ujarnya.
Harun bilang, saat ini sulit memainkan penjualan BBM subsidi. "Jika SPBU belum bayar BBM tidak bisa didistribusikan, pembayaran juga melalui sistem, mulai dari bank sampai masuk ke sistem kami, selanjutnya sudah bayar baru kita kirim (cash and carry)," ungkapnya.
Lalu, sopir truk BBM juga tidak pernah tahu ke mana saja BBM akan dikirim. "Sopir tiap mengirim harus berdasarkan data dari sistem kami, jadi datanya baru keluar baru tahu dia BBM dikirim ke mana, jadi tidak mungkin di tengah jalan dia mengirim ke tempat lain," ujar Harun lagi.
Untuk itu dirinya mempersilakan siapa saja yang meragukan data penjualan BBM Pertamina, termasuk Badan Pengatur Hilir Minyak dan gas (BPH Migas) maupun lainnya.
"Silakan BPH atau pihak lain yang mau mengecek, kalau BPH Migas meragukan karena mereka hanya punya kewenangan dan pengawasan sampai di Depot BBM saja, kami persilakan mengeceknya sendiri," tegas Harun.
(rrd/dnl)











































