BBM di Kalimantan Langka, Harga Eceran Tembus Rp 12.000/Liter

BBM di Kalimantan Langka, Harga Eceran Tembus Rp 12.000/Liter

Robert - detikFinance
Senin, 21 Mei 2012 16:57 WIB
BBM di Kalimantan Langka, Harga Eceran Tembus Rp 12.000/Liter
Samarinda - Warga Kalimantan terus kesulitan memperoleh BBM yang dijual di SPBU. Kesulitan itu membuat harga BBM subsidi eceran kian melambung dan menembus harga Rp 12.000 per liter.

Di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur misalnya, warga Kecamatan Long Ikis, kian kesulitan memperoleh BBM di SPBU. BBM yang dijual di SPBU, lebih cepat kehabisan menyusul antrean ratusan kendaraan yang terjadi setiap hari.

"Hanya dalam beberapa jam. Bahkan antre sebelum buka tergantung suplai dari Balikpapan," kata Hamzah (45), warga Long Ikis saat dihubungi detikFinance, Senin (21/5/2012) sore WITA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Hamzah, mendapatkan BBM semakin sulit di SPBU sepanjang perjalanan melalui Kecamatan Long Kali, Kecamatan Long Ikis, Kecamatan Kuaro hingga Kecamatan Batu Sopang menuju provinsi Kalimantan Selatan.

"Antrean ratusan kendaraan itu selain antrean kendaraan pribadi juga ada antrean truk-truk bermuatan kelapa sawit yang mengkonsumsi solar. Kalau BBM premium, juga banyak antrean pick up yang juga mengangkut sawit ikut antre," ujar Hamzah.

Masih di Kabupaten Paser, Awaluddin, warga yang tinggal di Desa Batu Kajang, Kabupaten Batu Sopang mengutarakan kenyataan yang tidak berbeda.

"SPBU di sini (Kecamatan Batu Sopang), lebih sering kosong. Begitu datang BBM, cepat habis. Kalau mau antre berjam-jam. Sering juga kehabisan sebelum kebagian," kata Awaluddin.

"Di SPBU tidak pernah sepi antrean sebelum SPBU itu beroperasi. Motor juga ikut antre sebelum SPBU buka. Rata-rata motor yang memiliki tangki besar," tambahnya.

Menurut Awaluddin, BBM subsidi eceran justru laku keras. Di eceran bahkan menyediakan premium dalam jeriken berukuran 25 liter dan sebenarnya kejadian ini berlaku cukup lama.

"Harga jual per liter Rp 7.000-Rp 9.000. Semakin ke arah mendekati Kalsel (Kalimantan Selatan), harga semakin mahal karena semakin sulit membeli premium di SPBU," terangnya.

"Sebagian besar masyarakat jarang membeli premium di SPBU. Lebih sering membeli di eceran dengan harga segitu. Kadang polisi jaga di SPBU, kadang tidak ada polisi yang jaga SPBU," sebut Awaluddin.

Sedangkan di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, juga mengalami hal yang sama. Ketiadaan SPBU, justru membuat harga BBM subsidi eceran melambung.

"Harga Rp 12.000 per liter ini sudah sekitar seminggu lebih di sini. Mau tidak mau, saya beli. Sebelumnya harga Rp 6.000-an saja," kata Muhammad Ahmad, warga Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

"Katanya, pedagang eceran terpaksa jual tinggi karena belinya dari mereka yang dapat BBM di Samuda dan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur," ujarnya.

Menurutnya, melambungnya harga diperkirakan tidak menggugah niat pemerintah untuk menertibkan penjualan harga BBM yang terus merangkak naik.

"Di sini memang adanya hanya APMS saja. Padahal di sini adalah Ibu Kota Kabupaten Seruyan. Kami menyesalkan tidak ada tindakan dari instansi terkait untuk menertibkan harga BBM seperti ini," sebut Muhammad.

"Yang sulit dapat BBM aja, cuma ada di Kalimantan saja. Bagaimana dengan di luar Kalimantan seperti di Pulau Jawa? Adem ayem saja soal BBM," tutupnya.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads