"Faktor terbesar turunnya produksi minyak tahun ini karena akibat berbagai masalah tahun lalu," kata Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) R. Priyono dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (22/5/2012).
Contohnya adalah masalah pada Chevron Pasific Indonesia (CPI) yang kehilangan produksi minyak 20.000 bph pada 2011, bahkan pada 2010 kehilangan 45.000 bph.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingkat kandungan air rata-rata di lapangan produksi yang sudah mencapai 98% membuat sulit untuk meningkatkan produksi minyaknya di sumur minyak milik Chevron di Riau.
Masalah lainnya adalah muncul dari PHE West Madura Offshore (WMO) yang kehilangan produksi hingga 10.000 bBph karena tertabraknya platfrom ke-40 yang memproduksi 2.100 bph. "Selain itu terhambatnya investasi untuk rencana pengembangan lapangan sebesar 7.900 bph," ucap Priyono.
"CNOOC juga kehilangan kesempatan produksi minyak sebesar 4.000 Bph dikarenakan terbakarnya FSO Lentera Bangsa yang diantaranya memerlukan penggantian gas turbine," tandasnya.
Seperti diketahui, sampai saat ini rata-rata lifting minyak Indonesia sejak Januari-April 2012, adalah 850.456 bph.
(rrd/dnl)











































