Hal ini disampaikan oleh Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Pamela Cox dalam laporannya yang dikutip, Rabu (23/5/2012).
"Jangka menengah, upaya berkelanjutan untuk menghapus distorsi lain dalam kegiatan ekonomi dan untuk meningkatkan alokasi dan efisiensi belanja pemerintah dapat membantu Indonesia mencapai pertumbuhan yang tinggi. Dan juga mengarahkan belanja dengan mengurangi subsidi BBM," jelas Pamela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aliran portofolio akan tetap bergejolak dan outlook perekonomian global tidak menentu. Dampak langsung pertumbuhan yang rendah dari Uni Eropa terhadap Indonesia kemungkinan akan terbatas karena negara tujuan ekspor Indonesia relatif terdiversifikasi," ungkap Pamela.
Ketergantungan Indonesia pada ekspor komoditas telah mendukung pertumbuhan kenaikan harga komoditas selama beberapa tahun terakhir, dalam hal ini, perkembangan di China memiliki kepentingan tertentu mengingat pengaruh mereka pada permintaan komoditas dan harga.
Pertumbuhan ekspor Indonesia diproyeksikan akan melemah di 2012, sebagai cerminan dari lemahnya pertumbuhan ekonomi tujuan ekspor Indonesia. Walaupun demikian pasar dalam negeri diperkirakan akan terus menopang pertumbuhan ekonomi.
"Hanya saja, kenaikan harga BBM yang mungkin terjadi di akhir tahun, berikut efek inflasi dalam melemahkan pertumbuhan konsumsi swasta," pungkasnya.
(hen/dnl)











































