Bank Dunia Minta Pemerintah RI Tekan Subsidi BBM

Bank Dunia Minta Pemerintah RI Tekan Subsidi BBM

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Rabu, 23 Mei 2012 11:14 WIB
Bank Dunia Minta Pemerintah RI Tekan Subsidi BBM
Jakarta - Bank Dunia meminta pemerintah untuk mengurangi anggaran subsidi BBM yang dinilai tidak efisien. Harusnya pemerintah bisa lebih efisien menggunakan anggaran untuk menggenjot ekonomi.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Pamela Cox dalam laporannya yang dikutip, Rabu (23/5/2012).

"Jangka menengah, upaya berkelanjutan untuk menghapus distorsi lain dalam kegiatan ekonomi dan untuk meningkatkan alokasi dan efisiensi belanja pemerintah dapat membantu Indonesia mencapai pertumbuhan yang tinggi. Dan juga mengarahkan belanja dengan mengurangi subsidi BBM," jelas Pamela.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia di 2012 akan tumbuh di 6,1%, dan pada 2013 tumbuh 6,4%. Masih terjaganya pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 6% tersebut karena perkembangan perekonomian global dan pasar keuangan yang menggambarkan risiko hanya akan berdampak jangka pendek bagi Indonesia.

"Aliran portofolio akan tetap bergejolak dan outlook perekonomian global tidak menentu. Dampak langsung pertumbuhan yang rendah dari Uni Eropa terhadap Indonesia kemungkinan akan terbatas karena negara tujuan ekspor Indonesia relatif terdiversifikasi," ungkap Pamela.

Ketergantungan Indonesia pada ekspor komoditas telah mendukung pertumbuhan kenaikan harga komoditas selama beberapa tahun terakhir, dalam hal ini, perkembangan di China memiliki kepentingan tertentu mengingat pengaruh mereka pada permintaan komoditas dan harga.

Pertumbuhan ekspor Indonesia diproyeksikan akan melemah di 2012, sebagai cerminan dari lemahnya pertumbuhan ekonomi tujuan ekspor Indonesia. Walaupun demikian pasar dalam negeri diperkirakan akan terus menopang pertumbuhan ekonomi.

"Hanya saja, kenaikan harga BBM yang mungkin terjadi di akhir tahun, berikut efek inflasi dalam melemahkan pertumbuhan konsumsi swasta," pungkasnya.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads