Dalam kesepakatan tersebut, BP akan menyediakan gas sebanyak 230 juta kaki kubik per hari (mmscfd) untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN di Teluk Bintun.
Menteri ESDM Jero Wacik menganggap kesepakatan ini merupakan catatan sejarah, karena akhirnya produksi gas Tangguh di Papua tidak lagi 100% diekspor ke luar negeri tetapi akan diberikan untuk dalam negeri juga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Jero, BP Indonesia yang diwakili Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) BP Berau Ltd akan segera membangun train III dengan kapasitas 3,8 juta ton per tahun dengan total investasi mencapai US$ 11 miliar.
"Nantinya BP akan menjual gas baik berupa gas LNG atau dalam bentuk gas bumi sebesar 230 mmcsfd harganya sudah disepakati dan akan memasok pembangkit listrik di Kabupaten Bentuni, Papua dengan fase pertama sebesar 4 megawatt dan akan ditingkatkan sesuai perkembangannya menjadi 75 MW," ungkap Jero.
Dikatakan Jero, BP Indonesia nanti pada Juli akan mengajuakan Plan of Development (POD) dan akan diperiksa oleh Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) jika disetujui maka akan segera mulai pembangunan train III.
"Juli diajukan POD nanti saya akan periksa kembali BP Migas juga akan periksa kalau sudah oke baru jalan, dan pengerjaannya akan dilakukan sproradis dengan investasi sebear US$ 11 miliar. Jadi ini sejarah, 40% produksinya nanti akan digunakan sebagai Domestik Market Obligation (DMO)," tandas Jero.
Sementara ditambahkan, BP Regional President Asia Pacific William W. Lin mengatakan MoU tersebut menggarisbawahi komitmen BP untuk mencapai kesepakatan terkait pasokan LNG untuk keperluan dalam negeri.
"MoU ini mencerminkan niat kami dalam mendukung pembangunan ekonomi Papua Barat, maupun membantu memenuhi kebutuhan energi di Indonesia secara keseluruhan, menyeimbangkan kebutuhan seluruh pemangku kepentingan," kata William W. Lin.
(rrd/dnl)











































