Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik

Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 24 Mei 2012 18:08 WIB
Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik
Jakarta - Tingkat ketersambungan listrik (elektrifikasi) di Papua sampai saat ini sangat rendah, hanya sekitar 34%. Tambahan pasokan gas Tangguh dari British Petroleum (BP) Berau Ltd ke Kabupaten Bentuni diharapkan bisa meningkatkan tingkat sambungan dlistrik di Papua menjadi 60% di 2014.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (24/5/2012).

"Di Papua masih rendah baru 34%, makanya kami mendorong agar PLN terus berupaya melakukan pemasangan baru di wilayah Indonesia Timur khususnya di Papua," ujar Djarman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai bentuk dukungan pemerintah kepada PLN, setiap tahun pemerintah memberikan dana untuk listrik di Indonesia Timur Rp 9 triliun di 2012.

"Kita dorong PLN untuk meningkatkan elektrifikasi di wilayah Indonesia timur dengan DIPA tahun ini sebesar Rp 9 triliun, di mana Rp 3 triliun untuk pengembangan listrik desa dan Rp 6 triliun untuk sambungan transmisi," katanya.

Dengan adanya dukungan tersebut serta gas dari Tangguh yang disalurkan oleh BP Berau Ltd sebesar 230 juta kaki kubik per day untuk pembangkit listrik di Bintuni, diharapkan akhir 2014 sebanyak 60% rumah tangga di Papua sudah dapat listrik.

"BP Berau akhir tahun sudah selesai proyek trim III-nya dan sudah bisa mengaliri gas. Jadi dengan adanya pasokan gas untuk pembangkit PLN seperti di Kabupaten Bintuni Papua diharapkan akhir 2014 elektrifikasi di Papua sudah bisa mencapai 60%, angka yang sudah cukup bagus," tuturnya.

Dengan adanya dukungan pasokan gas, serta pada Juni FSRU ((floating storage and regasification unit) di Jawa Barat dan Teluk Jakarta diharapkan secara nasional elektrifikasi sudah bisa jauh lebih baik.

"Saat ini eletrifikasi nasional masih 72,95% akhir tahun kita optimis mencapai 75% dan pada akhir 2014 bisa 80%, kita yakin bisa capai itu," tandasnya.

Sebelumnya, BP Indonesia yang diwakili Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) BP Berau Ltd akan segera membangun train III dengan kapasitas 3,8 juta ton per tahun dengan total investasi mencapai US$ 11 miliar.

"Nantinya BP akan menjual gas baik berupa gas LNG atau dalam bentuk gas bumi sebesar 230 mmcsfd harganya sudah disepakati dan akan memasok pembangkit listrik di Kabupaten Bentuni, Papua dengan fase pertama sebesar 4 megawatt dan akan ditingkatkan sesuai perkembangannya menjadi 75 MW," ungkap Jero.

Dikatakan Jero, BP Indonesia nanti pada Juli akan mengajukan Plan of Development (POD) dan akan diperiksa oleh Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) jika disetujui maka akan segera mulai pembangunan train III.

"Juli diajukan POD nanti saya akan periksa kembali BP Migas juga akan periksa kalau sudah oke baru jalan, dan pengerjaannya akan dilakukan sproradis dengan investasi sebear US$ 11 miliar. Jadi ini sejarah, 40% produksinya nanti akan digunakan sebagai Domestik Market Obligation (DMO)," tandas Jero.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads