Pada pertengahan tahun ini, Presiden SBY mencanangkan program penghematan nasional. Salah satu yang akan dicanangkan adalah menghidupkan kembali program konversi BBM ke BBG.
"Program ini bukan barang baru, kita sudah mulai dari 1988. tapi mati hidup karena nggak langgengnya gas. Yang pertama kita lakukan kita cari gasnya," katanya Dirjen Minyak dan Gas (Migas) Evita Herawati Legowo di acara Rakernas I Asosiasi Perusahaan CNG Indonesia (APCNGI) di Gedung Medco, Jakarta, Kamis (31/5/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga BBG tadi ada permintaan dari ketua APCNGI, kalau bisa harga di seluruh titik sama. Itu masukan buat kami karena dalam rapat terakhir di pemerintah masih ada 2 pendapat. Ada yang mengatakan tergantung wilayah, atau harga sama. Kalau usul di teman-teman APCNGI sama," kata Evita.
Mengenai harga ini, pemerintah berharap tak ada kenaikan harga CNG. Namun pemerintah berjanji tak akan merugikan pengusaha, sementara program konversi tetap berjalan.
"Yang terang pesan menko perekonomian ke para menteri tolong harga BBG nggak naik dulu. Tapi ini belum tentu bagus untuk pengusaha, kami sedang melakukan apa yang bisa kami lakukan supaya harga tetap sama tapi juga tidak merugikan pengusaha," katanya.
Evita juga mengatakan soal Perjanjian Jual Beli Gas, saat ini sedang disiapkan termasuk soal perpajakannya. Hal itu bagian dari beberapa hal yang sedang disiapkan pemerintah antaralain harga gas di hulu, biaya transportasi gas dan lain-lain
"Untuk PJBG masih ada beberapa hal yang harus kami selesaikan, mudah-mudahan ini bisa kita selesaikan beberapa hal. Target saya di kantor selesai setidaknya akhir agustus 2012 target selesai," katanya.
(zul/hen)











































