Pihak Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) berharap semua pihak terkait program konversi BBM ke BBG ikut mensukseskan program ini. Program konversi memerlukan dukungan semua pihak, bukan hanya bidang kementerian ESDM.
Dirjen Minyak dan Gas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan Menteri ESDM Jero Wacik pernah menyampaikan uneg-unegnya soal persiapan pelaksanaan program konversi BBM ke BBG.
"Pak menteri saya sempat curhat kenapa semuanya ke arah energi (ESDM) saja padahal seharusnya perhubungan darat, perindustrian, ESDM bergerak. Tetapi seakan-akan yang bergerak hanya dari sisi ESDM. Tetapi sebetulnya kami bergerak berkoordinasi dengan semua pihak terkait. Tapi di sini Kami mohon swasta ikut bergerak," kata Evita di acara Rakernas I Asosiasi Perusahaan CNG Indonesia (APCNGI) di Gedung Medco, Jakarta, Kamis (31/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Roadmap pembangunan infrastruktur 2012, SPBG tambahan dari pemerintah 33 di Jakarta, Banten, Jabar, Jatim. Kalau dengar dari Pak Budi Basuki (Direktur Utama MEDCO E&P) kelihatannya kurang SPBG-nya, mudah-mudahan bisa kita selesaikan tahun ini 33. Dari 21 jadi 54 akhir tahun ini," katanya.
Evita mengakui untuk tahap awal penghematan dari program ini masih tak signifikan karena harus menunggu infrastruktur SPBG termasuk tersedianya conveter kit.
Pemerintah menargetkan kendaraan yang terkonversi akan terus bertambah, berdasarkan alokasi anggaran pemerintah kendaraan terkonversi bisa mencapai 14.000.
"Kita akan berusaha nambah 10.000 lagi," katanya.
Menurutnya saat ini gas dan layanan SPBG yang ada sudah bisa mencapai 41.000 kendaraan. Hal ini, lanjut Evita, menjadi kesempatan bagi swasta menyediakan converter kit.
"Saya sudah sampaikan kepada dirjen di kementerian perindustrian, Pak Budi (Dirjen industri Unggulan Berbasis Teknologi) tolong dorong swasta untuk menyediakan converter kit. Kalau bisa belinya bisa dicicil supaya bisa memenuhi apa yang kami sediakan," katanya.
Ia menambahkan meski diserahkan ke swasta, namun converter kit harus dipasang di bengkel tersertifikasi. Menurut Evita, keselamatan tetap nomor satu.
"Ini adalah pembangunan infrastruktur untuk bengkel. Pemerintah tidak hanya sediakan gas, SPBG, menyediakan juga bengkel. Kita cegah pasang seenaknya tanpa standar. Existing ada 14 bengkel, tahun ini akan bikin lagi 8 bengkel, ada tambahan lagi 2 bengkel percontohan dari ESDM. Ada 4 APM (agen pemegang merek) yang menjanjikan kepada kami yang mau membangun bengkel," katanya.











































