Ketua Kadin Indonesia Komite Brunei Rahmat Pribadi mengatakan Brunei Darussalam memiliki produksi minyak mentah yang mampu memenuhi kebutuhan impor minyak mentah di dalam negeri.
"Kan aneh ya, yang deket tapi kita malah impor minyak dari Afrika padahal tetangga kita punya, kalau transportasi kan lebih murah," katanya usai pengukuhan pengurus Kadin Indonesia Komite Brunei di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (31/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Brunei hampir mengekspor 80% dari produksi minyaknya ya, produksi sekitar 400.000 bph, Indonesia total impor minyak mentah 300 ribu barel kalaupun 100% dari net kita dari sisi kuantitas dan spesifikasi bisa. Jadi paling tidak 1/3 dari kebutuhan itu, bisa seharusnya," jelasnya.
Rahmat menambahkan dahulu Indonesia bisa mengimpor minyak mentah dari Brunei sekitar 100 ribu barel. Namun, saat ini impor tersebut menurun hanya sekitar 30 ribu barel per hari.
"Terlihat adanya selera dari pemimpin Pertamina, kalau suka minyak Brunei maka impor naik, kalau tidak suka maka impor turun. Dulu, impor 100 ribu barel per day, sekarang 30 ribu barel, padahal lokasinya dekat, minyak sangat sesuai dengan kilang," paparnya.
"Iya saya bilang tergantung mood Pertamina, kenapa hari ini dia nggak mau impor dari Brunei, itu pertanyaan lain, panjang kalau ngomongin itu," pungkasnya.
(nia/hen)










































