"Itu baik, tetapi mungkin kita belum menyentuh akar permasalahannya. Akar permasalahan kita harga BBM yang terlalu murah. Itu yang harus kita atasi," tegasnya saat ditemui usai pengukuhan pengurus Kadin Indonesia Komite Brunei di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (31/5/2012).
Menurut Suryo, akar permasalahan yaitu besarnya subsidi untuk menekan harga BBM bersubsidi tetap di level Rp 4.500 per liter ini harus segera diatasi. Dengan demikian, anggaran negara tidak terkuras untuk subsidi BBM ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, lanjut Suryo, ada anggaran negara yang tersimpan untuk membiayai program negara lain yang lebih penting.
"Ada penghematan kelebihan untuk misalnya bangun transportasi publik, pemberdayaan UKM, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, tapi kalau terus digerogoti untuk BBM maka tidak akan jalan," ujarnya.
Sedangkan, jika harga BBM di tanah air masih terus ditahan murah oleh pemerintah, Suryo menilai ada kecenderungan masyarakat untuk boros.
"Karena dengan harga BBM yang murah, kecenderungannya orang akan menjadi boros. Kalau semua dengan murah kita jadi boros, ini gak sehat. Maka upaya penghematan bagus, tapi persoalannya akarnya harga BBM murah," pungkasnya.
(nia/dru)











































