"Kebutuhan marjin bagi PLN pada 2013 diharapkan sebesar 7%, pasalnya dengan marjin sebesar itu PLN diperkirakan akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 14,63 triliun-Rp 15,27 triliun, dengan marjin tersebut bisa menambah cashflow operasi PLN yang berasal dari laba bersih Rp 11,9 triliun, depresiasi Rp 18,3 triliun dan pendapatan lain-lain Rp 1,8 triliun," kata Direktur Utama PLN Nur Pamudji dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (31/5/2012).
Menurut Nur, lewat pendapatan ditambah marjin 7% tersebut, PLN bakal mempunyai dana Rp 25,9 triliun untuk membayar kewajiban pembayaran cicilan pinjaman Rp 21,2 triliun dan pembagian dividen kepada negara Rp 4,7 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PLN membutuhkan biaya investasi Rp 64,3 triliun di 2013. Untuk memenuhi dana investasi sebesar itu ada tiga sumber daya yakni dana dari PLN sendiri, subsidi negara, dan terakhir dari pinjaman atau utang.
"Untuk tahun 2013, kami mengalokasikan dana Rp 6,1 triliun untuk biaya investasi, dan berhadap negara memberikan subsidi Rp 10,1 triliun dan sisanya akan diupayakan melalui pinjaman yang diperkirakan sekitar Rp 48,1 triliun yang berasal dari proyek pinjaman luar negeri atau Subsidiary Loan Agreement (SLA) Rp 6,4 triliun (DIPA SLA), dari pinjaman bank Rp 4,1 triliun, dan pinjaman baru Rp 37,6 triliun dari obligasi dan pinjaman," jelas Nur.
Dia mengatakan program investasi tersebut harus dilakukan PLN dengan tujuan menopang pertumbuhan ekonomi 6,8%-7,2%. "Selain itu untuk memungkinkan penyambungan 2,5 juta pelanggan rumah tangga yang belum mempunyai akses pelayanan listrik, mendukung MP3EI koridor ekonomi dan meningkatkan rasio elektrifikasi kawasan luar Jawa agar rasio elektrifikasi nya mencapai lebih dari 60% serta penurunan losses (susut jaringan tenaga listrik menjadi 8,5%)," paparnya.
Investasi yang sebagian besar berasal dari utang sangat tidak baik untuk jangka panjang, apalagi PLN merupakan perusahaan milik negara. "Saya akui utang yang besar untuk digunakan sebagai investasi kurang baik dalam waktu panjang khususnya bagi kami yang merupakan perusahaan milik negara," tandasnya.
(rrd/dnl)











































