Kenaikan ekspor minyak Irak memberi pencerahan bagi masa depan negara-negara dan pasar minyak global pasca semakin ketatnya sanksi ekspor Iran oleh Barat. Para pengamat energi mengatakan, lonjakan produksi Irak yang diiringi oleh peningkatan produksi Arab Saudi dan industri minyak Libya yang hampir pulih total seharusnya bisa melindungi harga minyak di pasaran dan memberi komunitas internasional manfaat tambahan ketika sanksi terbaru Iran diberlakukan Juli nanti.
“Irak sangat membantu. Bahkan jika Irak meningkatkan ekspor minyaknya setengah saja dari yang ditargetkan tahun depan, itu bisa menggantikan hampir separuh suplai Iran yang akan hilang seiring dengan semakin ketatnya sanksi,” kata David L. Goldwyn, mantan koordinator Departemen Luar Negeri untuk urusan energi internasional di pemerintahan Obama, dikutip dari CNBC (4/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Irak mengatakan yakin bisa menambah produksinya hingga 400,000 barel per hari tahun depan. Mereka juga mengumumkan gol produksi 10 juta barel per hari pada 2017 nanti, yang berarti menyamai kemampuan Arab Saudi. Beberapa analis independen percaya gol besar itu realistis, tapi eksekutif perusahaan minyak terkesan dengan kemajuan dan ambisi Irak.
“Apa yang pemerintah mulai dan peningkatan produksi yang mereka cari dalam semua kontrak ini unik di dunia,” kata presiden BP Irak, Michael Townshend. Namun dia memperingatkan, “Belum ada yang berhasil meningkatkan produksi minyak dalam negerinya ke level seperti yang direncanakan Irak. Rencana itu luar biasa ambisius dan butuh banyak kerja benar.”
Kebangkitan industri minyak Irak setelah puluhan tahun masa perang, sanksi dan pengacuhan dimulai pada 2009 dan 2010 sejak keamanan membaik dan Baghdad menandatangi serangkaian kontrak jasa teknik dengan perusahaan-perusahaan asing seperti Exxon Mobil, BP, China National Petroleum Corporation dan ENI Italia. Perusahaan ini membawa peralatan seismik modern dan teknik pemulihan yang cukup modern untuk membangkitkan ladang tua.
Irak memproduksi sekitar 3 juta barel per hari. Namun Hans Nijkamp, country chairman Royal Dutch Shell Irak memprediksi produksi substansial dalam satu dekade mendatang sekitar 6 – 10 juta barel per hari. Para eksektutif perusahaan internasional mengatakan, birokrasi pemerintah Irak masih lamban dan koordinasinya buruk dalam membangun pelabuhan baru serta infrastruktur jaringan pipa untuk mengalirkan minyak dari ladang ke tanker.
Perang politik memperebutkan profit telah menghambat penegakan hukum minyak nasional, yang berarti perusahaan-perusahaan harus mengikuti regulasi tak jelas, beberapa di antaranya masih dari jaman kerajaan Ottoman. Defisit listrik memaksa politisi harus memilih antara melayani perusahaan minyak atau penduduk yang menginginkan pelayanan lebih bisa diandalkan.
Exxon Mobil merupakan pemain terbesar di Irak dibanding perusahaan Amerika lainnya. Namun mayoritas pemain berasal dari Eropa dan Asia seperti Lukoil (Rusia), Gazprom (Rusia), China National Petroleum dan China National Offshore Oil.
(/)











































