Adalah mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Pakuan Bogor, yang menyulap sampah organik dan anorganik menjadi bio gas serta membuat pupuk padat dan cair.
Mahasiswa tersebut memanfaatkan sampah organik dan anorganik menjadi sumber energi bio gas yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari oleh masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Caranya terbilang mudah dan tidak menelan biaya yang cukup mahal, karena semuanya disediakan oleh lingkungan sekitar. Dengan menggunakan lahan sebesar empat kali enam meter, dan tiga kolam kecil sebagai wadah sampah organic, proses konversi sudah bisa dilakukan.
Pertama, sampah organik dimasukkan ke dalam bak kecil yang dicampur dengan air, kemudian bak ini akan menyalurkan sampah dan air ke dalam Begester atau bak kedap udara, di sini sampah tersebut akan berfermentasi dan menghasilkan bio gas.
Sedangkan cairan dari hasil fermentasi akan disalurkan ke bak ke tiga menjadi pupuk cair, endapan dari pupuk cair di bak ke tiga akan disalurkan ke bak ke empat dan bisa digunakan sebagai pupuk padat.
"Kalau untuk di rumah, warga tidak perlu menggunakan Begester, dengan drum air yang besar saja juga bisa," terang Dadang.
Program konversi ini telah berjalan selama dua tahun, dan hingga kini hasil tersebut sudah bisa dirasakan langsung oleh masayarakat sekitar. Contohnya bio gas kini digunakan oleh kantin kampus untuk keperluan memasak.
Sedangkan pupuk padat dan cair, kini dijual kepada para pedagang kembang yang banyak tersebar di Kota Bogor.
โDengan adanya inovasi ini tentunya bisa menjadi solusi bagi masyarakat untuk menghadapi kelangkaan gas yang sekarang ini terjadi,โ ujar Dadang Junaedi.
(ang/ang)











































