"Laporan kelangkaan elpiji 3 kilo gram ini bukan karena stoknya habis, tetapi ada sebagian masyarakat yang tidak punya hati yang memanfaatkan situasi ini," kata Karen dalam kuliah umum di Universitas Indonesia, Depok, Jumat (8/6/2012).
Dikatakan Karen, orang-orang yang tidak punya hati ini, adalah orang-orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya. Misalnya pelaku industri yang tak berhak mendapat subsidi justru memaksa untuk mendapatkan subsidi elpiji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Karen, munculnya masyarakat yang tidak punya hati ini dikarenakan berawal dari disparitas harga yang terlampau jauh antara elpiji 3 Kg yang subsidi dengan elpiji non subsidi seperti 12 Kg, 50 Kg.
"Disparitas harga antara elpiji yang disubsidi maupun yang tidak termasuk juga dengan BBM subsidi banyak penyelundupan dikarenakan disparitas harga yang terlampau jauh sekali," ucap Karen.
Menurutnya jika permasalahannya terletak pada disparitas harga, maka bagaimanapun bakal tetap terjadi penyelewengan di lapangan. "Mau pakai aturan hukum maupun sampai pakai IT/teknologi sekalipun sulit untuk mencegah terjadinya penyelewenangan elpiji atau BBM subsidi," tegasnya.
Dicontohkan Karen, saat ini jika harga minyak mentah Indonesia atau ICP US$ 100 per barel harga premium Rp 8.500 per liter.
"Bayangkan berapa besarnya subsidi dari negara, padahal harga premium (Rp 4.500) dengan Pertamax hanya Rp 300 dimana pertamina RON-nya hanya 88 sementara pertamax RON 92 namun bedanya hanya Rp 300," tandasnya.
(rrd/hen)











































