Salah satu dari sekian banyak proyek PLTB yang terancam menjadi besi tua adalah di di Desa Sidomukti Kabupaten Pelalawan, Riau. Pemerintah Pusat melalui Kementrian Enerji dan Sumberdaya Mineral pada Januari 2011 membangun PLTB.
Pembangkit ini berkapasitas 100 KVA. Dari kapasitas itu hanya mampu memberi daya ke 70 rumah warga dari 450 rumah warga desa setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih menurut Hendra, pembangkit listrik ini hanya berjalan beberapa bulan saja ketika baru di resmikan. Belakangan warga desa merasa pembangkit ini tidak menjawab soal krisis listrik yang selama ini mereka rasakan. Mestinya pemerintah menyediakan pembangkit 300 KVA sehingga seluruh warga desa bisa menikmatinya.
“Belakangan mesin itu dibiarkan begitu saja karena kami anggap tidak dapat memenuhi kebutuhan listrik desa. Sekarang terancam menjadi besi tua. Karena tidak ada yang menjaganya, beberapa komponen mesin itu sudah banyak dicuri maling,” kata Hendra.
Masyarakatpun tidak ditransformasi pengetahuan operasional PLTB ini. Pemerintah hanya menjalankan pembangunan proyek namun kurang sosialisasi.
“Kalau tidak salah satu PLTB ini menghabiskan dana Rp 2 miliar lebih. Walau kami orang desa, tapi rasanya kalau hanya mesin kayak gitu saja harganya pun tak sampai Rp 1 miliar,” kata Hendra.
Apa yang terjadi di Kabupaten Pelalawan, ternyata juga terjadi di sejumlah kabupaten lainnya. Dua PLTB juga mengalami hal yang sama di Kabupaten Indragiri Hilir, satu mesin yang juga terancam menjadi besi itu juga terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu.
Begitu juga dua pembangkit lainnya yang bersumber dari Kementrian ESDM juga terancam menjadi besi tua di Kabupaten Bengkalis.
(cha/ang)











































