Wakil Direktur Reforminer Institue, Komaidi Notonegoro mengatakan, wajar jika G20 mengkiritk Indonesia karena besarnya subsidi yang diberikan khususnya BBM. Karena subsidi yang besar tak hanya membuat Indonesia sulit membangun infrastruktur, tapi juga kesulitan merawatnya.
"Kondisi ini harus secepatnya dibenahi, karena jika subsidi energi semakin membengkak akan berdampak pada pembangunan Indonesia," kata Komaidi kepada detikFinance, Senin (18/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika APBN hanya digunakan untuk belanja pegawai dan belanja subsidi maka belanja yang lebih produktif seperti belanja modal akan jauh berkurang," ujarnya.
Akibatnya, kata Komaidi, bisa dilihat saat ini, satu demi satu infrastruktur negeri ini mulai usang dan rusak.
"Jangankan membangun infrastruktur baru, merawat yang sudah ada saja sudah kesulitan karena sebagian besar anggaran untuk belanja rutin dan subsidi," tandasnya.
Dalam APBN-P 2012, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi energi Rp 225 triliun dengan rincian subsidi BBM Rp 137 triliun, subsidi listrik Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal energi Rp 23 triliun.
Sebelumnya, G20 memberikan 3 peringatan kepada pemerintah yang menghadiri forum tersebut di Los Cabos, Meksiko. Salah satu peringatan itu adalah soal kebijakan pemberian subsidi di sejumlah pos yang dinilai terlalu besar. Indonesia oleh G20 telah diingatkan mengurangi subsidi, karena nilainya yang besar akan memberatkan perekonomian nasional secara keseluruhan.
(rrd/dnl)











































