"Harga gas kita sebelumnya sangat rendah yakni hanya US$ 3,8 per mmbtu," kata Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) R. Priyono di Lokasi Pembangkit Jawa Bali (PJB) Unit Pembangkit di Gresik, Jawa Timur, Jumat (22/6/2012).
Akibat harga yang terlalu rendah ini, BP Migas berinisiatif melakukan renegosiasi kontrak untuk harga jual gas khususnya untuk dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Priyono kenaikan harga di hulu ini bertujuan salah satunya agar Indonesia memiliki posisis tawar untuk harga ekspor gas seperti ke China.
"Kalau harga gas dalam negerinya masih rendah, kita kehilangan posisi tawar untuk mendesak China lakukan renegosiasi kontrak LNG Tangguh yang saat ini hanya US$ 3,34 per mmbtu. Kenaikan harga gas hulu merupakan modal kita untuk negosiasi kontrak LNG ke China," jelas Priyono.
Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini mengatakan, pemerintah tidak akan pernah menurunkan kembali harga gas yang telah disepakati.
"Selain modal untuk mendesak China untuk renegosiasi, kenaikan harga gas hulu ini juga tujuannya agar menggairahkan industri hulu kita," ujarnya.
Tetapi yang jadi masalah, kenaikan harga gas di hulu khususnya kepada PT Perusahaan Gas Negara (PGN) operator ConocoPhillips naik dari US$ 1,85 per juta British thermal unit (mmBtu) menjadi US$ 5,6 per mmBtu. Dalam kontrak menyebutkan, harga ini akan terus naik bertahap hingga menjadi US$ 6,5 per mmBtu pada 2014. Ini yang dijadikan alasan PGN menaikan harga gas ke hilirnya (industri) sebesar rata-rata US$ 10,2 per mmbtu.
(rrd/dnl)










































