"Sudah saatnya PGN mengakhiri nikmatnya delta margin yang besar yang dulu-dulu pernah mereka lakukan dan nikmati, saat ini sudah waktunya untuk mengakhiri," kata Rudi usai menghadiri Peresmian penyaluran gas perdana Lapangan Terang Sirasun Bantur, Kangean Energy Indonesia Ltd dan Produksi 100 juta Barel JOB Pertamina-Petrochina East Java (Blok Tuban), Gresik, Jawa Timur, Jumat (22/6/2012).
Menurut Rudi, kenaikan harga gas PGN ke hilir atau industri sebesar 55% dinilai terlalu besar. Hal ini yang membuat pelaku industri di dalam negeri menolak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, melihat keputusan PT PGN yang menaikan harga ke industri yang dinilai terlalu tinggi, maka kata Rudi pemerintah terpaksa ikut intervensi dan menentukan harga gas ke industri.
"Bu Evita (Dirjen Migas) sedang mengkaji berapa harga yang tepat, tidak terlalu tinggi, tapi PGN masih bisa dapat untung. Minggu depan akan keluar keputusan harganya berapa," jelas Rudi.
Menurut Rudi, investasi PGN membangun pipa-pipa gas sudah terbayar alias balik modal dengan delta margin yang besar pada masa lalu. "Saat ini biarlah rakyat yang menikmati murahnya gas," tegasnya.
Sebelumnya PT PGN memutuskan kenaikan harga ke Industri sebesar 55%, pasalnya harga gas dari hulu ke PGN juga mengalami kenaikan dikarenakan operator Conoco Phillips menaikan harga dari US$ 1,85 per juta British thermal unit (mmbtu) menjadi US$ 5,6 per mmbtu.
Dalam kontrak menyebutkan, harga ini akan terus naik bertahap hingga menjadi US$ 6,5 per mmbtu pada 2014. Menurut Rudi hal ini lah yang menjadi alasan PGN untuk menaikan harga gas ke hilirnya (industri) sebesar rata-rata US$ 10,2 per mmbtu.
(rrd/hen)











































