Pertamina Sebar 5 SPBU Mobile di Pontianak

Pertamina Sebar 5 SPBU Mobile di Pontianak

Rista Rama Dhany - detikFinance
Sabtu, 07 Jul 2012 17:10 WIB
Pertamina Sebar 5 SPBU Mobile di Pontianak
Jakarta - PT Pertamina (persero) menambah jumlah unit SPBU Mobile atau SPBU keliling untuk mendistribusikan BBM Non Subsidi bagi kendaraan Pemerintah, BUMN dan BUMD serta kendaraan tambanga dan perkebunan. Kali ini 5 unit SPBU Mobile disebar ke daerah Pontianak yang juga merupakan daerah pertambangan dan perkebunan.

Dikatakan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Hanung Budya,SPBU Mobile berkapasitas 5.000 - 8.000 liter solar tersebut dilengkapi dengan meter arus, pompa produk, dan nozzle tersebut diharapkan menjadi solusi bagi perusahaan yang dilarang menggunakan BBM bersubsidi. Hal ini sebagai bentuk komitmen Pertamina dalam memenuhi tugas Pemerintah untuk turut mengontrol penggunaan BBM bersubsidi.

"Peluncuran ini merupakan bagian dari rencana Pertamina mengoperasikan sekitar 70 Unit SPBU Mobile di wilayah Kalimantan, untuk mendistribusikan BBM di kawasan pertambangan dan industri," kata Hanungdi Terminal BBM Pontianak dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (7/7/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga semester pertama tahun 2012, Pertamina menargetkan pengoperasian 65 SPBU Mobile yang tersebar di sejumlah daerah di Sumatera, DKI-Jawa Barat-Banten, Jateng-Jatim-Balinus, Kalimantan dan Sulawesi. Jumlah tersebut akan terus bertambah, karena diperkirakan kebutuhan adanya SPBU Mobile di seluruh wilayah Indonesia sekitar 400-500 unit.

Akibat Kemarau, Pertamina Tambah Rp 3 Miliar Kirim BBM ke Kalbar

Pertamina harus meronggoh kocek lebih dalam Rp 2-3 miliar per bulan untuk mengirim Bahan Bakar Minyak ke Kalimantan Barat dikarenakan musim kemarau yang membuat air sungai surut sehingga sulit dilewati kapal.

Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budy, Pertamina terus berupaya mengatasi kendala alam dan minimnya infrastruktur yang menjadi penghambat kelancaran distribusi BBM di Kalimantan Barat.

"Kendala distribusi BBM dirasakan ketika musim kemarau tiba. Dalam 3-4 bulan, yaitu Mei, Juni, Juli dan Agustus, Pertamina harus merogoh biaya distribusi tambahan, yaitu Rp2-3 miliar per bulan untuk memastikan BBM dapat diterima masyarakat," kata Hanung.

Pasalnya kata Hanung, selama periode tersebut aliran Sungai Kapuas di Kabupaten Sintang ketinggiannya menyusut drastis. Pada kondisi normal, ketinggian air sungai tersebut bisa mencapai 8--11 meter, namun ketika musim kemarau tiba ketinggian air surut hingga menjadi 40 centimeter saja sehingga tidak bisa dilalui SPOB (Self Propelled Oil Barge).

"Kondisi seperti ini dulu kejadiannya hanya 3 atau 4 tahun sekali. Tapi, 3 tahun terakhir surutnya air terjadi setiap tahun di musim kemarau," ujar Hanung.

Sebagai jalan keluar, Pertamina mengalihkan distribusi BBM dengan memompa BBM dari kapal SPOB ke truk tangki di daerah Sanggau yang berjarak 97 km dari Sintang dan membawa pasokan BBM melalui jalan darat. Selain proses distribusi memakan waktu yang lebih lama, infrastruktur jalan yang dilalui juga sangat buruk.

"Terminal BBM Pontianak ke Terminal Sintang berjarak 514 km dan jalur paling mudah dan efisien adalah melalui Sungai Kapuas. Dengan pola ini biaya tambahan yang harus dikeluarkan Pertamina jika debit air (Sungai Kapuas) berkurang adalah sekitar Rp2-3 miliar/bulan."ungkapnya.

Sebagai jalan keluar jangka panjang, Pertamina telah membangun depot mini di Kabupaten Sanggau dengan kapasitas sekitar 10.000 KL dengan kedalaman air pada musim kemarau sekitar 11 meter. Dengan depot mini tersebut dan Terminal BBM Sintang, daerah tengah Kalimantan Barat akan memiliki sarana dan fasilitas yang dapat menampung 30.000 Kl BBM.

"Begitu depot mini Sanggau tuntas pada akhir tahun ini, maka bisa menyimpan stok BBM untuk 3 bulan bagi wilayah Kalimantan Barat sehingga bisa menjamin keamanan pasokan," ungkap Hanung lagi.

Hanya saja, jalan menuju depot mini tersebut saat ini masih berupa tanah merah berbatu yang berisiko pada musim penghujan dan memerlukan perkuatan pada beberapa jembatan yang masih terbuat dari kayu.

"Oleh karena itu, pemerintah daerah diharapkan turut serta membantu agar infrastruktur jalan memadai untuk jalur alternatif dari depot mini Sanggau menuju titik konsumen," ucapnya.

Ditambahkannya, dengan melihat kondisi riil di lapangan, Pertamina melihat kemungkinan Pontianak untuk memiliki Terminal BBM skala besar, yaitu 100.000 KL. Terminal BBM tersebut sangat strategis untuk ketahanan pasokan BBM di Kalimantan dan juga sebagai cadangan untuk kebutuhan Jakarta dan sekitarnya.

"Kami melihat pembangunan Terminal BBM skala besar, yaitu 100.000 KL di Pontianak semakin urgent dan strategis untuk diwujudkan untuk ketahanan pasokan BBM di Kalimantan. Selain itu, Pontianak cukup dekat dengan Jakarta sehingga terminal BBM tersebut bisa menjadi back up untuk kebutuhan Jakarta dan sekitarnya," pungkasnya.

(rrd/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads