Demikian disampaikan Senior Ekonom Indonesia Bank Dunia Vivi Alatas ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/7/2012).
"Subsidi BBM, kita melihat itu sebagai kesempatan yang tidak digunakan, itu regresif yang banyak digunakan oleh orang yang lebih kaya, dan kesempatan kemarin, kesempatan yang hilang, yang sayang tidak digunakan," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia perlu ke depannya melihat bagaimana kebijakan belanja yang lebih baik, bagaimana mengarah secara gradual subsidi ini tidak rentan karena ini sangat rentan dengan pergolakan, sekarang ini memang turun tapi turunnya pun masih jauh di atas harga sekarang. Ini untuk ke depannya dan seharusnya dimulai dari sekarang," jelasnya.
Caranya, Vivi menyatakan dengan mekanisme kompensasi yang tidak hanya untuk masyarakat miskin tetapi bagi masyarakat yang rentan miskin. Dengan demikian, begitu subsidi ini dikurangi maka masyarakat ini tidak terperosok menjadi miskin.
"Indonesia harus mempunyai respons sistem yang bisa membantu siapa yang sekarang ini dirugikan tapi nantinya bisa menjadi trampolin yang bisa naik kembali. Harapnnya multiplier effects terjadi lagi," paparnya.
Vivi menyatakan sistem kompensasi itu harus bersifat cepat, mudah, bebas dari korupsi dan transparan. Selain itu, tidak dijadikan senjata politik untuk menarik simpati rakyat.
"Memang ada ketakutan apakah ini menjadi politik atau sebagainya. yang harus dipunya adalah suatu sistem kapan dibuka dan kapan ditutup, tidak dilakukan saat tidak boleh dilakukan, dilakukan saat memang seharusnya dilakukan," tukasnya.
(nia/dnl)











































