"Pak Gubernur menerima surat dari Dirjen Migas Kementerian ESDM, yang isinya menyampaikan pemerintah menunda konversi elpiji di lima kabupaten/kota di Pulau Sumbawa," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB Eko Bambang Sutedjo, di Mataram, Jumat (20/7/2012).
Eko mengatakan, penundaan konversi elpiji di Pulau Sumbawa itu karena anggaran untuk pengadaan paket perdana konversi yang terdiri tabung elpiji 3 kg, kompor, dan regulator belum tersedia pada tahun anggaran 2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kementerian ESDM menjadwalkan kembali konversi elpiji di Pulau Sumbawa pada 2013. Apakah itu awal tahun atau di akhir tahun bisa dimlai, belum dipastikan," kata Eko.
Di lima kabupaten/kota di pulau Sumbawa, rencananya paket perdana konversi elpiji akan dibagikan pada 250 ribu penerima. Sebelum konversi diberlakukan, maka Pertamina masih menyalurkan minyak tanah bersubsidi di seluruh Pulau Sumbawa.
Saat ini, di seluruh Pulau Sumbawa tiap hari Pertamina mendistribusikan tak kurang 100 ribu liter minyak tanah per hari. Minyak tanah itu didistribusikan melalui dua Depo Pertamina. Depo Badas mendistribusikan minyak tanah ke Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Pasokan minyak tanah di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu menjadi tanggungjawab Depo Pertamina Kota Bima.
Hanya saja, setelah Pertamina tidak lagi menyalurkan minyak tanah bersubsidi di Pulau Lombok menyusul selesainya konversi elpiji 3 kg awal November 2011, maka kini banyak pihak mengeluhkan adanya penyelundupan minyak tanah bersubsidi dari Pulau Sumbawa ke Lombok.
Penyelundupan itu mengakibatkan minyak tanah di Sumbawa dilaporkan kerap sulit didapat. Sementara di Lombok yang beredar resmi hanya minyak tanah non subsidi yang harganya fluktuatif sesuai harga industri yang mencapai Rp 11.000 per liter.
(dnl/dnl)











































