Tarif Beli Listrik Naik, Pertamina Siap Tambah 7 Proyek Geothermal

Tarif Beli Listrik Naik, Pertamina Siap Tambah 7 Proyek Geothermal

- detikFinance
Senin, 13 Agu 2012 14:34 WIB
Tarif Beli Listrik Naik, Pertamina Siap Tambah 7 Proyek Geothermal
Jakarta - Para pengembang energi panas bumi (geothermal) siap untuk mengenjot pengembangan geothermal karena pemerintah telah menjanjikan kenaikan harga beli listrik (feed in tarif) dari US$ 9,7 sen/kWh menjadi hingga US$ 17 sen/kWh tanpa harus negosiasi harga.

Salah satu yang menyambut baik rencana pemerintah tersebut adalah PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) dengan siap menambah 7 proyek pengembangan sumur geothermal dengan nilai proyek mencapai hingga US$ 2,7 miliar.

"Kita sangat menyambut baik rencana pemerintah tersebut, dengan adanya kepastian harga (feed in tarif) dan harganya dinaikan membuat kami bergairah dan sudah saatnya ngebut dalam mengembangkan panas bumi,"ujar Direktur Utama, PT PGE, Slamet Riyadi di Jakarta, Senin (13/8/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pasalnya harga pembelian listrik panas bumi sebelumnya ditetapkan maksimal US$ 9,7 sen/kWh.

"Harga tersebut yang dibeli PLN belum tentu US$ 9,7 sen/kWh, pasalnya tergantung negosiasi dengan PLN lagi, apalagi negosiasi sendiri bisa berjalan lama, bisa setahun lebih," ungkapnya.

Belum lagi dengan harga terdahulu maksimal US$ 9,7 sen per Kwh membuat internal rate of return (IRR) atau indokator tingkat efisiensi dari suatu investasi sangat rendah, dari beberapa proyek PGE kata Slamet IRR dibawah 9%.

"Tentu ini menyulitkan pihaknya untuk memitigas resiko yang dialami, apabila salah perhitungan maka akan mengancam eksistensi perusahaan.

"Kalau IRR dibawah 9%, sulit bagi kami untuk mitigasi risiko investasi, salah perhitungan bisa kolaps kami. Harga yang rendah dan tidak pastinya harga ini menjadikan kendala besar bagi pengembangan geothermal di Indonesia," katanya.

Namun, kabar yang sering didengarnya dari Kementerian ESDM termasuk dari Menteri ESDM Jero Wacil, pemerintah akan merevisi harga jual listrik panas bumi, dan tanpa melalui negosiasi.

"Kabarnya harganya akan dinaikan ada yang US$ 10 sen/kWh bahkan sampai US$ 17 sen/kWh, tentunya ini kabar baik bagi pengembang geothermal, apalagi tanpa melalui negosiasi harga,jadi harga sudah final dan PLN wajib beli sesuai yang ditentukan," ungkapnya.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, rencananya pemerintah akan menetapkan feed in tarif untuk panas bumi di Sumatera sebesar US$ 10 sen/kWh, Jawa, Madura dan Bali sebesar US$ 11 sen/kWh, Sulawesi Selatan sebesar US$ 12 sen/kWh, Sulawesi Utara sebesar US$ 13 sen/kWh, NTB dan NTT sebesar US$ 15 sen/kWh dan terakhir di Maluku dan Papua sebesar US$ 17 sen/kWh.

"Tentunya dengan harga tersebut kami sangat semangat mengembangkan proyek geothermal, salah satunya dengan merencanakan akan menambah proyek pengembangan dari 14 Wilayah Kerja yang kami miliki dengan nilai US$ 2,4-2,7 miliar," ungkapnya.

Sebanyak 7 proyek pengembangan geothermal PGE, ungkap Slamet diantaranya Lahendong 4 : 20 MW, Ulu Beli1 : 55 MW, Elu Belu 2 : 55 MW, Lahendong 5 dan 6 : 2 x 20 MW, Karaha 30 MW, Lumut Balai 1 sampai 4 : 4 x 55 MW dan Kamojang 5 30 MW.

"Ketujuh proyek tersebut merupakan proyek eksplorasi dan pengembangan dari sumur-sumur yang sudah ada dengan produksi setara 992 MW pada 2016," tandasnya.

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads