Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Bidang Infrastruktur Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Ibrahim Hasyim. Selama harga BBM subsidi Rp 4.500 per liter program konversi ke BBG hasilnya tak jelas.
"Hasilnya hanya capek doang, karena selama harga BBM subsidi Rp 4.500 per liter sampai kapan pun orang malas melirik BBG walaupun infrasturkturnya sudah ada," kayta Ibrahim kepada detikFinance ketika ditemui di Jakarta Convention Center, Rabu (29/8/2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Argentina berhasil konversi 2 juta kendaraan rakyatnya menggunakan gas, saya tanya kenapa mereka berhasil? ya paling utama karena harga, dari pada pakai minyak yang mahal mending gunakan gas yang lebih murah," ungkapnya.
Sementara di Indonesia, akan sangat sulit terealisasi, karena harga BBM masih murah. "Orang tidak diberi pilihan yang bagus untuk beralih ke gas, BBM harganya Rp 4.500 per liter, gas Rp 3.100 per lsp (setera liter), karena masih murah orang malas pindah," ucapnya.
Menurut Ibrahim, pengaturan harga ini sentral sifatnya, walau sensitif tapi kebijakan harga yang baik untuk investor dan konsumen harus dilakukan.
"Simpel sebenarnya kalau mau buat konversi BBM ke BBG ini jalan, ya harga BBM subsidinya dinaikan, simpel tapi susah penerapannya, tapi harus, harga BBM subsidi dinaikan agar masyarakat punya pilihan, ditetapkan harga yang membuat investor senang dan konsumen mau melirik," tambahnya.
Dicontohkan Ibrahim, seperti dulu Pertamina siap mengembangkan infrastruktur tanpa harus dibiayai negara apabila pemerintah mau menaikan harga BBG dari Rp 3.100 per lsp ke Rp 4.100 per lsp dan BBM subsidinya dinaikan Rp 6.000 per liter.
"Dengan skema harga seperti itu, investor bakal bergairah bangun infrastruktur BBG, dan saya yakin dengan BBM Subsidi Rp 6.000 per liter, masyarakat akan melirik BBG," tandasnya.
(rrd/dru)











































