Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Someng saat ditemui di kantornya, Jalan Kapt. Tendean, Jakarta, Selasa (4/9/2012).
"Ya memang (premium bisa habis 15 September) karena DKI Jakarta over kuota terus, bulan sebelumnya saja sudah over 34% Agustus over 37%," kata Andy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harusnya lebih diutamakan menggunakan BBM non subsidi di DKI Jakarta, seperti di Jalan Tendean saja banyak sekali SPBU-nya, jadi banyak alternatif dan tidak mungkin terjadi kelangkaan BBM. Kalau BBM subsidinya habis, ya harusnya menggunakan BBM non subsidi," ucap Andy.
Namun kembali lagi, karena dampak pengaruh Jakarta yang begitu kuat, Pertamina tidak mungkin mengambil risiko dengan membiarkan jatah BBM subsidi habis.
"Inikan eranya repormasi, idealnya harusnya di Jakarta pakainya BBM non subsidi karena infrastrukturnya banyak dan tidak mungkin ada kelangkaan BBM di Jakarta. Tapi Pertamina tidak akan mungkin ambil risiko karena takut dikira terjadi kelangkaan di Jakarta," tutup Andy.
(rrd/dnl)











































