Warga Bekasi, Tangerang, & Depok Penyebab Jatah BBM Subsidi DKI Jebol

Warga Bekasi, Tangerang, & Depok Penyebab Jatah BBM Subsidi DKI Jebol

- detikFinance
Selasa, 04 Sep 2012 15:09 WIB
Warga Bekasi, Tangerang, & Depok Penyebab Jatah BBM Subsidi DKI Jebol
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Konsumsi BBM subsidi di DKI Jakarta terus jebol. Jatah bensin premium Jakarta diprediksi habis pada 15 September. Salah satu penyebabnya karena warga non Jakarta.

Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi mengatakan, salah satu penyebab kuota BBM subsidi di DKI Jakarta jebol adalah warga non Jakarta seperti di Bekasi, Tangerang, Depok, dan daerah-daerah pinggir Jakarta.

"Salah satu penyebab kuota DKI Jakarta jebol dikarenakan warga non Jakarta yang bekerja di Jakarta. Bisa dilihat saat ini hampir sebagian besar Jakarta diisi warga non Jakarta yang rumah tinggalnya di Bekasi, Tangerang, Depok, dan lainnya yang siangnya bekerja di Jakarta," ungkap Eri ketika ditemui di Kantor Pusat BPH Migas, Jakarta, Selasa (4/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Logikanya, kata Eri, warga non Jakarta yang berangkat kerja cenderung terburu-buru dan baru mengisi BBM kendaraannya saat pulang kerja. "Hal tersebut membuat konsumsi BBM di Jakarta tentunya lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya," ucap Eri.

Eri juga memastikan, jebolnya jatah BBM subsidi di Jakarta berasal dari konsumsi sepeda motor dan bukan karena lari ke industri.

"Sebanyak 100% konsumsi BBM subsidi di Jakarta berasal dari kendaraan bermotor, baik yang dari warga yang tinggal di DKI maupun di luarnya. Dan tidak mungkin lari ke industri, bisa dilihat saja antrean di SPBU Kuningan, apa pernah lihat mengisi BBM ke drum-drum, jadi memang murni kendaraan bermotor, macet di mana-mana, isinya kendaraan semua," tegas Eri.

Terkait jatah bensin premium DKI yang akan habis 15 September nanti, Eri yakin pemerintah dan DPR akan melakukan langkah cepat untuk menambah jatah kuota BBM subsidi.

"Tidak akan mungkin BBM subsidi diputus secepat itu, berbahaya, bisa jadi kepanikan walaupun sudah seharusnya DKI lebih mengutamakan konsumsi BBM non subsidi. Tapi tidak mungkin tiba-tiba BBM subsidi di DKI hilang, bisa-bisa akan banyak penjual BBM subsidi eceran pakai botol di Monas dengan harga BBM 2 tak Rp 6.000 yang dibeli dari SPBU di luar DKI Jakarta," tegasnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads